Ketua Umum Partai Parsindo Jusuf Rizal mengatakan partainya bertujuan mewujudkan cita-cita besar Sukarno dan melanjutkan pembangunan di era Soeharto. Hal ini bisa dilakukan bila Indonesia dipimpin Tommy.
Menurut dia, figur Tommy dapat mendamaikan batin masyarakat yang merindukan suasana hidup di zaman Soeharto. Sebab, era reformasi yang dulu diharapkan membawa perubahan nyatanya dalam 18 tahun perjalanannya tidak membuat warga lebih senang.
"Kami menemukan figur ini di Tommy. Dia nasionalis, berintegritas, dan memiliki keluarga yang mempunyai visi pemimpin," katanya di Grand Sahid Hotel, Jakarta, Kamis (11/5).
Jusuf mengakui sosok Tommy pasti akan selalu dikaitkan dengan kepemimpinan ayahnya yang kontroversial di era Orde Baru. "Justru kelemahan-kelemahan Orde Baru harus dijadikan pelajaran agar tidak terjadi lagi," ucapnya.
Untuk dapat mengusung Tommy, yang harus dilakukan Parsindo adalah lolos verifikasi KPU sehingga bisa berpartisipasi dalam pemilu 2019. Karena itu, hari ini juga Parsindo meluncurkan kartu tanda anggota (KTA) yang diharapkan menjadi stimulan bagi masyarakat untuk bergabung dengan Parsindo.
Jusuf menjelaskan, Parsindo adalah partai baru yang telah meraih SK Kementerian Hukum dan HAM. Sebelumnya, partai ini bernama Partai Persatuan Nahdlatul Ummah. Kepengurusan Parsindo, kata dia, sudah ada di semua provinsi di Indonesia. "Dan diharapkan 2019 nanti kami bisa menjadi peserta pemilu dan akan mengusung saudara Tommy Soeharto," ucapnya.
Sekretaris Jenderal Partai Swara Rakyat Indonesia atau Parsindo Ahmad Hadari mengatakan partainya telah mendapat restu untuk mengusung Hutomo Mandala Putra—putra bekas Presiden Soeharto—sebagai calon presiden pada pemilu 2019.
Partai yang sedang menjalani verifikasi faktual di Komisi Pemilihan Umum (KPU) tersebut juga telah berkomunikasi dengan Partai Berkarya, yang sama-sama mengusung Tommy Soeharto—sapaan Hutomo.
“Sekitar tiga bulan lalu, kami (Parsindo) dipertemukan dengan Partai Berkarya oleh Tommy,” kata Hadari saat dihubungi Tempo, Minggu, 12 Maret 2017. “Dia meminta kami menjadi satu partai. Parsindo menolak, tapi terbuka kemungkinan berkoalisi dengan Partai Berkarya atau partai lain yang juga mengusung Tommy Soeharto.”
Hadari mengklaim, Parsindo telah bergerilya menggalang dukungan bagi Tommy Soeharto dengan mengandalkan kekuatan LIRA—lembaga swadaya masyarakat cikal bakal partainya. Saat ini, kata Hadari, Parsindo membonceng kekuatan LIRA yang tersebar di 34 provinsi dan 480 kabupaten/kota.
Parsindo, Hadari melanjutkan, juga menggunakan kekuatan massa dari sayap organisasi LIRA yang mewadahi anak muda, perempuan, pengusaha, atau kelompok lain. “Kami yakin, pemilu 2019 adalah pertarungan antara trah Soeharto melawan trah Sukarno di bawah Megawati Sukarnoputri, yaitu PDI Perjuangan,” ujarnya.
Pada Sabtu, 11 Maret 2017, keluarga Cendana mengadakan acara di Masjid At-Tin, Jakarta Timur, yaitu haul Soeharto dan peringatan ke-51 Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret). Acara ini dihadiri ribuan orang. Mereka berdoa sambil mengumandangkan salawat nabi.
Acara tersebut dihadiri sejumlah tokoh politik, seperti Prabowo Subianto, Fadli Zon, Hidayat Nur Wahid, dan Akbar Tanjung. Tamu undangan lain yang hadir antara lain Anies Baswedan, Sandiaga Uno, dan Djarot Saiful Hidayat. Pada malam itu juga ada pidato pemimpin Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Syihab. (ant/tmp)
Share
0 komentar:
Posting Komentar