Jumat, 19 Mei 2017

BATAM (HK) - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batam sedang merampungkan pembuatan sistem transaksi non tunai. Hal tersebut dimaksudkan agar uang retribusi kebersihan dari masyarakat bisa lebih transparan dan tepat sasaran.
"Kita sedang membuat sistem, dimana nanti semua penagihan uang retribusi sampah untuk rumah tangga mengunakan pembayaran non tunai," kata Kepala DLH Kota Batam, Dendi Purnomo ketika diwawancarai di gedung Pemko Batam, Jumat (19/5).

Disampaikannya, pola yang akan digunakan dalam pemungutan nanti cukup dilengkapi dengan sebuah barcode berbentuk sebuah kartu untuk diberikan kepada setiap rumah tangga. "Jadi tidak lagi menggunakan metode manual, sehingga lebih tepat sasaran, ditargetkan dalam bulan September ini sudah bisa jalan dan diimplementasikan," ucapnya.

Program ini juga merupakan salah satu intruksi pemerintah pusat agar uang retribusi kebersihan Pemko Batam lebih transparan, juga bagian dari semangat untuk menciptakan Indonesia bebas sampah tahun 2020.

"Kita sudah memulai semuanya secara perlahan, untuk mewujudkan Batam bebas sampah pada tahun 2020, meskipun sekarang ini terkendala akan keterbatasan alat operasional," katanya.

Kendati demikian, rencananya Dinas DLH akan mengajukan penambahan armada, TPS dan tempat pembersihan sampah di laut pada tahun anggaran 2018. "Akan kita ajukan agar alat operasional mencukupi kebutuhan," timpalnya.

Sementara itu, sisi pendapatan dari retribusi sampah sendiri capaian Dinas DLH sudah melebihi target awal estimasi."Sekarang pendapatan kita Rp2,5 miliar setiap bulan, ditargetkan pada akhir tahun nanti capaian kita melebihi dari target sebesar Rp25 miliar," tandasnya.

Anggota Komisi II DPRD Batam, Hendra Asman, hasil dari RDP DLH di Komisi II bahwa banyak yang bocor, dikarenakan masih bertatap muka antara pemungut dengan masyarakat pembayar retribusi. "Karenanya kita menyarankan agar menggunakan kartu yang dikerjasamakan dengan salah satu bank, sehingga nantinya tidak ada lagi sistem tunai yang selama rawan los penerimaan," ungkapnya.

Bukan semata-mata mencari untung, tetapi kita menghindari terjadinya kebocoran yang besar. Kita berupaya transpran, transparansi dan kepatuhan. (cw56)

Share

DLH Bangun Sistem Transaksi Non Tunai

Kamis, 18 Mei 2017

BATUAJI (HK) --  Bahaya longsor mengintai warga yang mendiami Perumahan Puri Mas, RT 05/RW 22, Kelurahan Buliang, Batuaji. Pasalnya drainase yang memisahkan perumahan Puri Mas bagian depan dengan perumahan Maitri Indah sudah habis terkikis hujan, sehingga jalan masuk di depan deretan rumah warga terancam putus.
Iwan, warga di blok E1 nomor 15 menuturkan, akses jalan di depan blok rumah mereka terputus, maka otomatis jalan masuk ke dalam perumahan itu juga terputus, sebab jalan yang sudah terancam ambruk karena longsor, padahal itu jalan masuk satu-satunya ke perumahan mereka.

"Sudah lama kondisinya begini. Pohon-pohon yang kami taman di pinggir parit itu semuanya sudah tumbang karena longsor karena terkikis banjir," ujar Iwan kepada wartawan, Kamis (18/5) siang.

Penyebab longsornya pinggir drainase itu, kata Iwan, karena memang selama ini saluran drainase itu belum disemenisasi ataupun pemasangan batu miring. Sehingga setiap kali hujan, air mengikis pinggiran drainase dan hingga saat ini pengikisan serta longsor itu sudah mencapai separuh jalan.

Jika pemerintah tak segara menindak lanjuti persoalan itu, maka tak menuntut kemungkinan rumah-rumah warga yang berderat di blok E1 itu akan roboh nantinya. "Itu yang kami khawatirkan. Sudah berulang kali kami sampaikan ke pemerintah persoalan ini, namun baru kali ini ada tindakan," tutur warga lainnya.

Dari pantauan di lapangan, tampak terlihat jika separuh jalan di depan blok E1 itu kondisinya sudah gantung. Separuh jalan dari arah saluran drainase bagian bawah sudah tak ada tumpuan tanah lagi.

Bahkan, lahan kosong antara batas aspal jalan ke saluran drainase yang semula lebarnya mencapai tiga meter sudah tak ada lagi. Celah lahan yang seharusnya itu lahan penghijauan itu atau taman itu sudah ratah dengan galian drainase.

Saluran drainase pun tampak amburadul sebab selain dangkal karena tertimbun tanah losong juga tampak tak berbentuk lagi. Padahal saluran drainase itu merupakan satu-satunya drainase yang menjadi saluran pembuangan baik warga perumahan Puri Mas ataupun perumahan Maitri Indah.

Sementara itu, Lurah Buliang, Husein Siregar, mengaku sudah mengetahui kondisi tersebut dan tindak lanjutnya tahun ini Pemko Batam akan segera memasang batu miring di drainase yang bermasalah itu.

"Tahun ini sudah bisa pasang batu miring. Anggaran (non PIK) sudah disetujui tinggal pelaksanaannya saja. Memang sudah sangat berbahaya itu," ujar Husein. (ded).

Share

Perbatas Rumah Warga Terancam Longsor

[unable to retrieve full-text content]

[unable to retrieve full-text content]

Jakarta (HK)- Sejak pemerintah mengeluarkan keputusan untuk membubarkan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), organisasi kemasyarakatan (ormas) ini hampir menghentikan semua aktivitasnya.

Kantor HTI Tidak Ada Lagi Aktivitas

[unable to retrieve full-text content]

KARIMUN (HK)-Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Kabupaten meminta kepada seluruh anggota Kesatuan Penggerak PKK dan masyarakat Karimun untuk membudayakan konsumsi ikan. Sebabnya, dalam ikan terkandung sumber protein yang tinggi. Apalagi, Karimun sebagai wilayah perairan termasuk salah satu produsen ikan.

PKK Budayakan Makan Ikan

[unable to retrieve full-text content]

[unable to retrieve full-text content]