Rabu, 29 Maret 2017

16 Ruli Dilahan Masjid Agung II Ditertibkan

16 ruli dilahan pembangunan masjid agung iiWarga Histeris saat Rumahnya Dirobohkan

BATAM (HK) -- Sebanyak 16 unit rumah liar (Ruli) yang berada di lahan pembangunan Masjid Agung II, Kampung Harapan RT03/RW03 kelurahan Tanjung Uncang, Batuaji kembali ditertibkan oleh tim Terpadu kota Batam, Rabu (29/3) sekitar pukul 09.00 WIB.

Tim Terpadu tersebut terdiri dari puluhan TNI- Polri dan Ditpam bersama ratusan anggota Satpol PP kota Batam hingga pihak Kecamatan Batuaji. Untuk penertiban rumah liar itu langsung diturunkan satu unit alat berat beko guna meratakan pepohonan yang diatas lahan tersebt. Diketahui jika penggusuran rumah semi permanen itu dilakukan lanjutan dari penertiban pada 2016 lalu.

Sebelumnya, terdata 65 rumah liar yang berdiri di lahan tersebut sudah di tertibkan pada 2016 lalu. Namun dari 65 rumah tersebut, 16 di antaranya masih bertahan membangun kembali rumah liar di sekitar lokasi.

Imam Tohari, Kepala Bidang Ketentraman dan Ketertiban (Trantib) kota Batam, penertiban ini lanjutan dari 16 dari 65 rumah liar dilahan pembangunan Masjid Agung II ini.

Bahkan sebelum penertiban ini sudah sesuai dengan protab dan sudah melayangkan surat peringatan (SP) I hingga III. Maka dari itu hari ini waktunya dilakukan untuk penertiban pemaksaan.

Imam juga mengatakan, dalam kegiatan penggusuran ini semua sudah mendapatkan ganti rugi dari Pemerintah Kota (Pemko) Batam melalui dana patungan. Namun anehnya lagi, ada 16 rumah yang pindah ke belakang dan ada juga yang menjual rumahnya kepada warga sekitar dan dikira tak ditertibkan.

"Saat ini ada 16 rumah liar lagi yang digusur. Mereka pindah kebelakang dan mereka kira tak digusur lagi. Dari penggusuran ini, semuanya sudah mendapatkan ganti rugi dari Pemko Batam melalui dana patungan," kata Imam Tohari.

Katanya lagi, tim Terpadu hanya melaksanakan penggusuran sesuai ketentuan. Pasalnya, pada bulan April ini sudah selesai pematangan lahan serta akan peletakan batu pertama masjid Agung II dilaksanakan.

"Tim terpadu ini hanya melaksanakan kegiatan penggusuran sesuai den9gan ketentuannya. Dan ditargetkanya pada bulan April ini sudah selesai pematangan lahan serta akan dilakukan peletakan batu pertama Masjid Agung II dilaksanakan," ungkapnya dia.

Dilokasi, Sugiri, warga yang kena gusur mengatakan, memang sudah diberikan surat peringatan dan sudah menerima ganti rugi sebesar Rp 4 juta perumah. Akan tetapi dana sebesar itu mana cukup, kalau ngontrak sudah habis dana itu.

"Memang sudah diberikan surat peringatan, kita juga sudah menerima ganti rugi sebesar Rp 4 juta perumah, tetapi dana sebesar itu cukup sampai dimana, kalau kita ngontrak dana itu sudah habis, terus kita makan apa," kata Sugiri pemilik kandang ayamnya dirobohkan oleh tim terpadu.

Sugiri juga mengatakan, dirinya hanya bekerja sebagai peternak ayam dilokasi tersebut untuk menghidupi keluarganya. "Kalau kita pindah, dari tempat ini, lantas kita mau kerja dimana dan makan apa, nantinya," ujar Sugiri sambil memegang ayam-ayamnya.

Surigi yang memiliki kandang ayam 12 dan ayam sebanyak 150 ekor tersebut mengatakan, selama ini dirinya bersama keluarga sudah tinggal di kampung Harapan selama 30 tahun. Ditempat bersamaan, Reminta, warga lainnya mengatakan, dirinya baru tinggal dua bulan di lokasi tersebut.

"Sebelumnya sudah pernah digusur, jadi kita tinggal disini. Sebenarnya bukan tidak tahu mau digusur, tetapi inilah kenyataan hidup, suami tidak bekerja, uang dari mana untuk bayar kontrakan," cerita Reminta dilokasi penggusuran.

Reminta juga menuturkan, dirinya membayar kontrakan di lokasi tersebut Rp 150 perbulan. "Kalau kita ngontrak ditempat lain memang masih dapat seharga itu, sekarang semua sudah diratakan, kita tinggal dimana lagi," katanya sambil kebingungan.

"Kalian memang tidak punya prikemanusian, kita tinggal disini karena keadaan ekonomi, kami sumpahkan kalian menerima balasannya, kalian menyiksa rakyat lemah," teriak ibu-ibu.

Pantauan di lokasi, terlihat semua rumah yang terbuat dari triplek diratakan dengan tanah tanpa ada sisa. Bahkan pepohonan juga ikut ditumbangkan hingga langusung diratakan memakai alat berat tanpa ada perlawanan dari masyarakat sekitar. (ded)

Share

0 komentar:

Posting Komentar