Di tengah suhu politik elit memanas saling curiga, saling bully, saling melapor polisi, muncul poster rakyat miskin yang dirundung pilu menghadapi harga bahan pokok seakan terabaikan perhatian para politisi yang dipilih dengan harapan bisa meringankan daya hidup mereka.“Saya mengharapkan kalangan budayawan dan intelektual kampus untuk urun rembug dan mencari formulasi jalan keluar atas persoalan yang saat ini dirasakan masyarakat Indonesia. Sikap saling curiga, saling membully, saling melapor sungguh meresahkan kita semua,” ujar Anang di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (25/1/2017).
Menurut politisi PAN ini, di tengah carut marut situasi seperti saat ini, dibutuhkan pemikiran yang menyejukan dan terbebas dari kepentingan kelompok jangka pendek. Kalangan budayawan dan intelektual kampus dinilai memilki pikiran yang genuin dan jernih dalam melihat persoalan yang saat ini.
“Budayawan dan intektual yang tidak partisan diharapkan dapat menyalakan lilin di tengah hiruk pikuk seperti saat ini,” jelas musisi asal Jember ini.
Selain itu, kata Anang, MPR sebagai lembaga tinggi negara yang fokus pada persoalan ideologi negara dan konstitusi dapat mengambil inisiatif menggelar dialog kebangsaan yang melibatkan sebanyak-banyaknya elemen bangsa.
“Saya mendorong MPR dapat mengambil inisiasi ini bersama kalangan budayawan dan intelektual kampus non partisan untuk menggelar dialog kebangsaan yang targetnya terciptanya rujuk nasional. Karena saat ini yang terjadi adalah situasi merajuk nasional,” terang Anang.
Selain masalah sosial, Anang juga menyoroti terkait kenaikan harga bahan pokok di tengah masyarakat. Dia mengaku saat bertemu dengan konstituen di daerah pemilihannya, masalah kenaikan harga bahan pokok menjadi salah satu keluhan yang kerap dipersoalkan.
“Biaya hidup masyarakat saat ini semakin mahal. Kenaikan bahan pokok menjadi pemicunya. Masalah ini juga harus segera diperhatikan oleh pemerintah,” pungkas Anang. @yuanto
0 komentar:
Posting Komentar