Batam-Tanjungpinang Aman
Jakarta (HK)- Demonstrasi Aksi Bela Islam II di depan Istana Negara sempat memanas, Jumat (4/11). Sejumlah massa dan polisi saling serang. Letupan tembakan gas air mata beberapa kali terdengar di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat itu.
Kantor Radio Republik Indonesia, yang terletak tidak jauh dari titik kerusuhan, menjadi tempat evakuasi para demonstran yang terluka. Sejumlah anggota Polisi dan TNI berjibaku membantu tim medis untuk menangani para korban.
Lima korban terlihat sedang ditangani sejumlah anggota tim medis di dalam kantor RRI. Satu korban di antaranya mengalami luka di bagian siku dan dahi. Polisi membuat pengawalan ketat di depan kantor RRI untuk meredam massa yang ingin terus masuk. Sekitar lima mobil ambulans mengevakuasi warga yang terkena lemparan batu dan terkena gas air mata.
Sejumlah demonstran meneriakkan bahwa orang bernama Syaikh Ali Jabir terkena tembakan gas air mata. Belum diketahui sosok Ali Jabir yang dimaksudkan demonstran. Jumlah korban masih bertambah. Istana Negara dikepung pendemo dari empat sisi. Jalan protokol yang biasanya dilalui kendaraan kini diisi ribuan pendemo Basuki Tjahaja Purnama, yang mereka anggap menistakan Al-Quran.
Di sisi Jalan Medan Merdeka Barat, misalnya. Ribuan orang berbendera Himpunan Mahasiswa Islam, Laskar Mujahidin, Forum Pembela Islam, dan massa GPII menutupi dua ruas jalan tersebut. Di jalan ini, polisi antihuru-hara bertameng dan mengenakan pengaman sudah siaga.
Mobil tank air, barakuda, dan polisi bersenjata gas air mata juga siaga. Massa beberapa kali melemparkan botol ke arah polisi sejak pukul 14.00 WIB.
Untuk meredam emosi, polisi melantunkan ayat-ayat Al-Quran dari atas mobil barakuda. Sedangkan sekitar pukul 12.00 WIB di Jalan Medan Merdeka Barat, polisi dan pendemo sempat menunaikan salat Jumat bersama.
Ruas Jalan Medan Merdeka Utara, yang menuju Istana Negara, juga dikepung massa. Di sisi ini, massa datang sejak pukul 13.15 WIB dan jauh lebih tenang. Meski demikian, mobil barakuda tetap siaga. Ada pula puluhan polisi berkuda yang menjaga massa agar tidak merangsek masuk ke Istana.
Di Jalan Majapahit, pendemo jauh lebih tenang. Pendemo memadati jalan ini sejak pukul 13.30 WIB. Pantauan di lapangan, massa berbendera HMI dan FPI berorasi dengan santai. Di ruas jalan ini, hanya polisi Sabhara antihuru-hara yang mengawal orasi massa.
Istana juga terkepung dari sisi Jalan Juanda. Massa yang bergerak dari Masjid Istiqlal ini jauh lebih banyak dan dikawal polisi Sabhara. Di depan pagar Istana, tentara baret merah berjaga ketat. Istana Negara juga dipagari kawat berduri.
Hanya Mau Jokowi
Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab, yang menggelar demo 4 November, belum juga bertemu dengan perwakilan pemerintah di Istana Kepresidenan. Rizieq mengatakan dirinya hanya mau masuk ke Istana Kepresidenan apabila dapat menemui langsung Presiden Joko Widodo.
"Saya sebagai utusan, menyampaikan bahwa Habib Rizieq inginnya bertemu langsung dengam Presiden Joko Widodo," kata Bachtiar Nasir, juru bicara Rizieq Shihab, saat memberikan keterangan pers di gerbang Istana Merdeka, Jumat (4/11).
Rizieq dan kawan-kawannya yang tergabung dalam Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI hari ini menggelar unjuk rasa menuntut Kepolisian mempercepat proses hukum kasus penodaan agama yang dituduhkan kepada Gubernur DKI Jakarta non-aktif Basuki Tjahaja Purnama. Sejauh ini sudah ada 11 pengaduan menyangkut dugaan penistaan Surat Al-Maidah ayat 51 yang diduga dilakukan Basuki.
Sebelumnya, yang akan menemui Rizieq dan perwakilan pengunjuk rasa adalah Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin; Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto; Menteri Sekretaris Negara Pratikno; Sekretaris Kabinet Pramono Anung; Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo; dan Kapolri Jenderal Tito Karnavian. Mereka semua menunggu di gerbang Istana Merdeka.
Namun, ditunggu sejak pukul 14.00, Rizieq tak kunjung muncul menemui mereka. Rizieq hanya dua kali mengirimkan utusannya, Bachtiar, untuk menyampaikan bahwa Rizieq hanya mau menemui Presiden Joko Widodo.
Joko Widodo sendiri, saat ini, tengah berada di luar Istana Kepresidenan. Berdasarkan info yang diterima, ia sedang blusukan mengecek proyek infrastruktur bersama Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi.
Bachtiar melanjutkan bahwa dirinya bisa mengerti apabila Presiden Joko Widodo sibuk dengan agendanya. Namun, menurut ia, seharusnya Presiden Joko Widodo sudah tahu bahwa para perwakilan demonstran berharap bisa bertemu dengannya. "Masa sih tidak tahu? Saya yakin beliau tahu," ujarnya.
Negosiasi terakhir, Rizieq ditawarkan bertemu dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Namun, Bachtiar mengaku belum yakin apalah tawaran terbaru itu akan diterima oleh Rizieq. "Sekarang saya harus sampaikan lagi ke para pimpinan," ujarnya.
Perwakilan pemerintah, yang terdiri atas para menteri, meninggalkan tempat tunggu para perwakilan demonstran saat berita ini ditulis. Mereka masuk ke Wisma Negara yang diyakini untuk membahas permintaan Rizieq dan perwakilan demonstran.
Wakil Presiden Jusuf Kalla akan menerima perwakilan demonstran di kantor Wakil Presiden, Jumat (4/11). Kepastian ini disampaikan Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto. "Wakil Presiden akan menerima perwakilan mereka," kata Wiranto setelah menemui Kalla, Jumat sore kemarin di kantor Wapres, Jakarta.
Wiranto mendatangi Kalla untuk melaporkan tuntutan demonstran. Sebenarnya, kata dia, aspirasi demonstran telah diterima pemerintah. Ini dilakukan setelah Wiranto, yang disertai beberapa menteri, bertemu dengan perwakilan demonstran, yang juga disertai perwakilan DPR dan DPD.
Namun mereka menuntut bertemu dengan Presiden Joko Widodo. Karena Presiden tidak berada di Istana, demonstran setuju bertemu dengan Wapres. "Maka, saya lapor Wapres untuk siap menerima mereka," ujarnya.
Wiranto berharap pertemuan ini akan membuat situasi keamanan menjadi kondusif. Demonstran diharapkan bisa membubarkan diri. "Pemerintah, demi keamanan nasional, menginginkan segera menerima mereka dan mereka bubar," tuturnya.
Di kantor Wapres masih terlihat persiapan untuk menerima perwakilan demonstran. Setelah bertemu dengan Kalla, Wiranto tampak menuju halaman Istana Negara untuk memantau demonstrasi. Unjuk rasa ini dilakukan elemen umat Islam untuk menuntut proses hukum terhadap Ahok, yang diduga menistakan agama terkait dengan ucapannya soal Surat Al-Maidah ayat 51.
Tangkap Ahok
Sementara itu di Batam, demo serupa juga dilakukan Aliansi Umat Muslim Batam di Mesjid Raya Batam Center, Jumat (4/11). Dalam tuntutannya, mereka mendesak Kapolda Kepri segera menghadap Kapolri untuk melakukan penangkapan terhadap Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, karena diduga telah melakukan penistaan surat Al-maidah ayat 51.
" Kami di sini hadir untuk mendukung serta mengamankan keputusan MUI tanggal 11 Oktober 2016, dimana Basuki alias Ahok telah melakukan penistaan terhadap Agama Islam yakni Surat Al-Maidah ayat 51," ujar Didik salah seorang orator aksi, Jumat (4/11).
Oleh karena itu, lanjut dia, kasus tersebut masuk ranah pidana, meskipun sebelumnya Ahok telah meminta maaf, tetapi tidak serta merta terbebas dari jeratan hukum. " Kami dari Aliansi Umat Muslim Batam meminta kepada aparat penegak hukum tidak melakukan tindakan diskriminatif, baik itu Kepolisian maupun Kejaksaan," teriaknya secara lantang.
Jika tuntunan mereka tidak diindahkan, maka mereka akan mengggerakkan massa dengan jumlah yang lebih besar dari Batam untuk melakukan demonstransi susulan. Pantauan di lapangan, aksi damai ini diikuti oleh 200 orang yang terdiri dari berbagai organisasi Islam di Kota Batam. Mereka mendapatkan pengawalan ketat dari Kepolisian.
Datangi Mapolres Tanjungpinang
Demo serupa juga dilakukan ratusan massa dari berbagai Ormas Islam di Polresta Tanjungpinang. Ormas Islam yang
tergabung dalam Forum Aliansi Umat (Format) Kepri itu menuntut polisi segera memeriksa Gubernur DKI Jaya non aktif Basuki Tjahya Purnama alias Ahok karena dianggap telah menistakan Agama Islam.
Momentum aksi damai ini sejalan dengan aksi di Jakarta termasuk berbagai daerah lainya di tanah air secara besar-besaran menuntut Ahok dipenjarakan melalui proses hukum sebagaimana layaknya tentan penistaan Agama.
“Kita menuntut penegak hukum untuk memenjarakan saudara Ahok, karena diduga telah melakukan penistaan agama,” ujar salah seorang pendemo.
Sebelumnya, ratusan massa Ormas Islam tersebut lebih berkumpul di Asrama Haji Jalan Pemuda, kemudian dengan berjalan kaki menuju Mapolresta Tanjungpinang untuk menyampaikan aspirasi mereka tentang dugaan perbuatan yang telah dilakukan Ahok tersebut.
Sedikitnya ada 8 perwakilan Ormas Islam menyampaikan masing-masing orasinya di halaman Mapolres Tanjungpinang yang dikordinatori oleh Hardiansyah dari Format Islam, termasuk Ketua FPI Kepri Dedi Sanjaya serta Imam Besar FPI Kepri, Hajarullah Aswat.
Dalam berbagai orasi massa tersebut, meminta agar aparat penegak hukum bertindak cepat untuk melakukan proses hukum atas tindakan yang dilakukan Ahok yang dinilai telah melakukan penistaan terhadap agama Islam, termasuk lambang negara Pancasila.
Mereka juga meminta kepada Kapolres Tanjungpinang AKBP Joko Bintoro untuk segera melaporkan sejumlah aspirasi yang disampaikan tersebut ke Polda Kepri untuk diteruskan ke Mabes Polri termasuk Presiden RI, Joko Widodo.
"Yang kami protes bukan menyangkut etnis atau Agama tertentu, melainkan orang yang telah melakukan penistaan Agama yang telah dilakukan Ahok. Maka kami minta aparat penegak hukum bertindak cepat dan tegas untuk memprosesnya dengan seadil-adilnya," ucap Dedi Sanjaya.
Sementara Hajarullah Aswat menilai telah bosan melihat dan mendengar adanya ketidakadilan serta tebang pilih kasus yang dilakukan oleh aparat penegak hukum di negeri ini. "Namun dalam kasus penistaan agama ini, kami minta aparat penegak hukum melakukan tindakan yang seadil-adilnya," ucap Hajarullah
Dalam aksi tersebut, juga diawali pembacaan ayat-ayat suci Alquran serta kalimat Allahu Akbar dan di akhiri dengan doa bersama, sebelum membubarkan diri secara teratur melalui pengawalam ketat dari aparat ke Polisian menuju kembali ke Asrama Haji Tanjungpinang. (nel/cw 56/tmp)
Share
0 komentar:
Posting Komentar