Bentrok antar
sesama mahasiswa Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UIN-SU), Senin
(21/11). Melibatkan ratusan mahasiswa, 4 (empat) mahasiswa terluka parah
sementara 15 lainnya luka ringan.
![]() |
| Korban Penyerangan |
Ke empat mahasiswa
yakni, Alamsyah Tohib mengalami memar dikepala, Andolan mengalami koyak
dikening hingga 3 jahitan, Mhd Tohir Munthe mengalami luka di telinga dan
Afwali Ginting mengalami memar di dada, dan terpaksa dilarikan ke Rumahsakit
Haji untuk mendapatkan perawatan medis.
“Sudah kita bubarkan.
Saat ini suasana di kampus sudah kembali kondusif. Mengenai bentrokannya masih
dilakukan koordinasi dengan pihak rektor,” jelas Kasat Sabhara Polrestabes
Medan, Kompol Siswandi.
Bentroknya sesama
mahasiswa UIN diduga hanya karena kesalah pahaman pemakaian lapangan futsal,
Sabtu (19/11) kemarin.
Saat itu, Ketua SEMA -F UIN SU Alamsyah Toyib Hasibuan
(22) yang tengah memantau jalannya pertandingan futsal didatangi Bibi (36)
selaku Kepala Pusbanglis Sumut (Pusat Pengembangan Bisnis) yang menyuruhnya
untuk menghentikan pertandingan tersebut. Namun, permintaan Bibi ditolak
Alamsyah.
Mendengar hal itu, Bibi
inipun langsung menghajarnya hingga babak belur. Kemudian mahasiswa yang tak
terima dengan aksi pemukulan itu melakukan berkumpul di depan gedung Rektor
UIN SU meminta pelaku untuk bertanggung jawab, Senin (21/11).
![]() |
| Korban Penyerangan |
Ternyata, aksi demo
yang dilakukan tidak diterima rekan-rekan Bibi yang berasal dari Sapma OKP PP dengan
membuat unjuk rasa tandingan. Karena kedua kubu sudah bertemu, dan tanpa ada
yang mengkomandoi akhirnya keduanya pun terlibat aksi saling serang hingga
beberapa mahasiswa terluka.
“Ributnya di belakang.
Kantor Sapma PP dan Kantor Unit Kegiatan Olahraga Mahasiswa juga turut
dirusak,” ujar mahasiswa.
Aksi saling serang
kedua mahasiswa dengan menggunakan senjata dari kayu yang sudah di kasi paku
bahkan menurut pengakuan mahasiswa bahwa SATMA OKP PP menggunakan cangkul dl.
“mereka gunakan cangkul
dan kayu yang udah ada paku – pakunya bg, memang selama ini kehadiran satma okp
pp memang selalu tampil sebagai perusak kedamainan di kampus kami bang” pungkas
salah satu mahasiswa UIN SU yang takut di sebutkan namanya.
![]() |
| Korban Penyerangan |
Bahkan para mahasiswa
yang ikut juga saling pukul dan melempar batu. Takut menjadi korban bentrok
membuat mahasiswa lainnya berhamburan dari lokasi kampus untuk menyelamatkan
diri.
Aksi bentrok tersebut
langsung direspon banyak elements aktifis salah satunya Ahmad Sofwan yang
menyatakan bahwa element yang suka memaksakan kehendaknya dan menyerang
mahasiswa lain itu element yang harus segera dibubarkan dan di masukkan kedalam
sel.
“kita hidup
berdampingan dan harus saling bertoleransi, bukan saling serang seperti
binatang yang merasa hebat sendiri, perkara loreng anjing saja bisa pake pakean
loreng yang gak jelas mutu dan kualitas PANCASILA nya. Kehadiran OKP masuk
kedalam kampus dan menciptakan suasana yang sesuka mereka sudah membuktikan
bahwa OKP yang bersifat anarkis harus segera dibubarkan dalam suasana Ke
Indonesia an dan PANCASILA, karena kita sudah melihat begitu banyak perpecahan,
komplik yang menimbulkan korban dalam tubuh pemuda karena ulah premanisme dan
anarkisme yang mereka ciptakan” ujar Sofwan
“pihak rektorat dan
biro – biro yang berada dikampus tersebut harus segera memproses kasus
kepolisian dan menyerahkan oknum – oknum yang melakukan penyerangan dan
pemukulan kepihak kepolisian agar dihukum sesuai dengan hokum Indonesia, dan
membubarkan kantor – kantor organisasi Ekstra yang berada didalam kampus, soalnya
saya lihat terakhir kali masuk UIN SU cukup merusak pemandangan dan menunjukkan
kesan penuh anarkisme dan premanisme seolah mereka pulak yang punya kampus tu,
sejak kapan pulak boleh organisasi mendirikan kantor di kampus universitas”
ucap Ahmad Sofwan menutup.
Pihak rektorat terkesan
menutup diri dan tidak ingin di wawancarai oleh wartawan terkait bentrok antar
mahasiswa di UIN SU. (M.AIZU)




0 komentar:
Posting Komentar