Senin, 17 Oktober 2016

Gerindra ingatkan Pilkada DKI curang bisa mengulang rusuh 1998

Tiga calon Gubernur DKI Jakarta ini sama-sama memiliki massa yang berpontesi untuks saling dibenturkan. Penyelenggara Pilkada dminta mengantisipasi sejak dini.

LENSAINDONESIA.COM: Di tengah calon pasangan calon PilKada DKI Jakarta
menunggu ditetapkannya nomor urut oleh KPU, ternyata Pasukan Relawan
Anies-Sandi Untuk Jakarta (PARAS JAKARTA) menemukan fakta lapangan tentang adanya dugaan pengerahan pemilih Siluman untuk memenangkan pasangan
Petahana pada Pilkada DKI Jakarta nanti.

“Modus yang dilakukan antara lain dengan mendaftarkan para penduduk
pendatang yang tidak memiliki KTP DKI dan bukan Warga Jakarta, tetapi tinggal dan bekerja di Jakarta. Ini ledakan daftar pemilih tetap pada Pilkada DKI Jakarta,” ujar ‎ Wakil Ketua Umum DPP Gerindra ‎Arief Poyuono di Jakarta, Senin (17/10/2016).

Para pekerja non formal dan informal tersebut kebanyakan bekerja sebagai asisten rumah tangga, kuli Toko, Buruh di Pabrik yang oleh para majikannya didaftarkan sebagai pemilih Pilkada DKI Jakarta. Padahal, mereka bukan warga DKI Jakarta.

“Selain itu, para pedagang pedagang Keliling seperti Tukang Bakso, Siomay dll, Tukang Ojek, supir Angkot yang tidak memiliki KTP DKI juga didaftarkan sebagai pemilih juga,” ungkapnya.

Hal ini sangat bisa terjadi karena banyak warga Siluman di DKI Jakarta yang punya KTP Jakarta, tetapi tidak tinggal dan menetap di Jakarta. Menurut Poyuono, biasanya mereka membuat KTP DKI hanya untuk keperluan membuat SIM atau Surat Kendaraan Motor dan Keperluan administrasi di Jakarta saja atau Warga Ber KTP DKI Jakarta, tapi sudah pindah dari Jakarta atau sudah meninggal dunia, ternyata masih terdaftar sebagai warga DKI Jakarta. Jumlahnya diperkirakan hampir pemegang KTP DKI Jakarta yang menjadi warga Siluman itu sebesar 25 % dari total KTP DKI Jakarta yang dikeluarkan Pemprov DKI Jakarta .

“Nah, para warga DKI Siluman yang ber KTP Jakarta ini yang nantinya haknya digunakan oleh para pemilih Siluman yang bekerja dan menetap di Jakarta tapi bukan warga DKI Jakarta,” katanya.

Karena itu, Gerindra menghimbau pada warga DKI Jakarta ber-KTP Jakarta dan tinggal di Jakarta untuk mengawasi para pemilh saat akan pencoblosan. Sebab, pemilih siluman nanti akan diarahkan untuk memilih pasangan Petahana .

“Gerindra juga akan bekerja keras agar Pilkada DKI Jakarta tanpa kecurangan saat pencoblosan. Jika Pilkada DKI Jakarta hasilnya curang dan dimenangkan pasangan yang punya sumberdaya untuk curang, dan punya kekuasaan, maka akan berdampak pada kerusuhan di Jakarta seperti tahun 1998,” kata Poyuono, keras.

Apalagi, adanya kasus dugaan penistaan Agama Islam oleh Ahok tidak akan dilupakan umat Islam Jakarta. Jika Pilkada dimenangkan Basuki Tjahaya Purnama – Djarot dengan kualitas Pilkada tidak jujur, menurut Poyuono, maka bisa berpotensi rusuh
di Jakarta.

“Karena itu, Gerindra menghimbau KPU, Panwaslu dan aparat Kepolisian untuk bekerja keras. Jangan sampai terjadi kecurangan yang masif pada Pilkada DKI Jakarta. Apalagi, rakyat ekonominya lagi susah,” pungkasnya. Artinya, jangan sampai
kecolongan’ curang, apalagi pembiaran. @dg

loading...

0 komentar:

Posting Komentar