Jumat, 16 September 2016

Karimun Dilirik LSM Singapura

Bangun Smart City Lewat Bank Dunia

KARIMUN (HK)-Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dari Singapura dan Malaysia tertarik membangun smart city (kota pintar) di Kabupaten Karimun. Biaya untuk membangun kota pintar itu rencananya menggunakan dana Corporate Social Responsibility (CSR) World Bank (Bank Dunia). Kemarin rombongan LSM itu disambut Bupati Karimun Aunur Rafiq di rumah dinasnya, Jumat (16/9) pagi.
"Ada teman-teman dari LSM Singapura dan Malaysia punya pemikiran untuk membangun smart city (kota pintar). Kota semacam ini sudah diterapkan di daerah yang maju. Mereka coba menawarkan kesini. Program smart city itu bermacam-macam, ada yang bentuknya pembangunan infrastruktur dan sumber daya manusia. Kami tadi sudah bincang-bincang, kita welcome untuk itu," ungkap Rafiq.

Kata Rafiq, kalau memang lembaga tersebut serius membangun smart city di Karimun. Maka mereka harus menyiapkan data apa saja yang sudah dilakukan oleh Wold Bank melalui CSR nya itu di belahan negara Asia lainnya. Jika itu sudah ada, maka silakan datang lagi ke Karimun untuk mempresentasikannya.

"Saya sudah sampaikan, niat mereka itu baik. Namun, tentu kita tidak bisa percaya begitu saja tanpa melihat dulu apa yang sudah dilakukan oleh World Bank melalui dana CSR itu. Jika itu sudah ada, silakan mereka presentasikan kepada kita, nanti akan kita siapkan tim untuk menyambut mereka," ujarnya.

Menurut dia, kalau dana CSR itu bisa masuk ke Karimun tanpa adanya embel-embel lain, maka Pemkab Karimun akan sangat menyetujuinya. Namun, ketika dana itu dalam bentuk pinjaman daerah, maka Pemkab Karimun jelas tidak akan menyetujuinya, karena proses untuk itu sangat panjang. Harus ada persetujuan dari Gubernur dan Menteri Keuangan.

"Mereka bilang dana itu bukanlah dalam bentuk pinjaman, tapi program yang mereka tawarkan ke negara-negara di Asia, termasuk Karimun yang ada di Indonesia. Ketika mereka sampaikan seperti itu, maka saya tentu saja sangat setuju. Namun, mereka harus mempresentasikan dulu program itu apakah sudah berjalan di tempat lain atau belum," tutur Rafiq.

Rafiq menyebut, ada alasan kenapa pihaknya meminta kejelasan dari LSM Singapura itu. Dia tidak mau terjebak lagi dengan pengalaman lalu, ketika datangnya rombongan investor dari Cina yang ingin mengembangkan usahanya di Karimun. Namun, hingga sekarang investor itu tidak pernah muncul lagi. Apalagi, ketika ditelusuri ternyata perusahaan itu tidak pernah ada.

"Meski begitu, kita kan tidak merasa dirugikan, karena mereka sendiri yang datang ke tempat kita. Apapun alasannya, kita tetap menyambut baik siapapun yang datang ke Karimun, apalagi dengan membawa pemikiran yang ingin membantu kita. Kita hanya mempersiapkan apa saja yang mereka butuhkan," jelasnya.

Menurutnya, jika program pembangunan smart city itu memang ada dalam dana CSR di World Bank, maka lokasinya bisa dipilih di Moro, Tanjungbatu ataupun Pulau Karimun. Hanya saja, jika memang diberi pilihan, kata Rafiq, maka pihaknya lebih cenderung membangun jembatan atau konektivitas antar pulau di Karimun. (ham)

Share

0 komentar:

Posting Komentar