Minggu, 25 September 2016

Banjir Garut 33 Orang Meninggal, 20 Lainnya Hilang

banjirGARUT (HK)-Hingga hari kelima tanggap darurat bencana banjir bandang di Kabupaten Garut, Minggu (25/9) sore, Posko Penanggulan Bencana setempat telah menemukan 33 jenazah dan 35 orang lainnya luka-luka. Saat ini Tim SAR masih melakukan pencarian terhadap 20 warga yang dilaporkan hilang tersebut.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho mengatakan pihaknya bersama tim SAR gabungan masih terus mencari 20 orang yang hilang akibat banjir bandang tersebut.

"Penyisiran kami perluas hingga wilayah Sumedang," katanya Minggu (25/9).

Sutopo mengatakan tim gabungan yang memperluas pencarian di beberapa daerah di Sumedang itu di antaranya kawasan Bojonglarang, Cimacan, Lapangan Paris, Waduk Jatigede, dan Kampung Cusurat Kecamatan Wado, Kabupaten Sumedang. Tim gabungan itu terdiri dari Basarnas, TNI, Polri, BPBD, Tagana, PMI, relawan, NGO, SKPD, dan masyarakat.

Menurut Sutopo, tim gabungan memiliki kendala luasan wilayah yang terdampak banjir bandang. Tim SAR harus mencari korban yang tertimbun bekas bangunan dan lumpur. Tidak semua lokasi dapat dijangkau alat berat, sehingga pencarian dilakukan secara manual.

Saat ini lima alat berat dan delapan anjing pelacak dari Polda Jawa Barat dikerahkan. Akses menuju lokasi terdampak juga sempit. Di sungai, kondisi aliran Sungai Cimanuk keruh karena sedimentasi tinggi. Tim SAR menyusuri sungai hingga Waduk Jatigede di Sumedang. Cuaca juga kurang bersahabat karena hujan sering turun.

BNPB hingga kemarin mencatat insiden banjir bandang ini juga menyebabkan 6.361 orang mengungsi dan 2.049 rumah rusak yang meliputi 283 rumah hanyut, 605 rumah rusak berat, 200 rumah rusak sedang, dan 961 rumah rusak ringan.

Di tempat terpisah, Komandan Kodim (Dandim) 0611 Garut sekaligus Komandan Posko Penanggulangan Bencana Garut, Letkol Arm Setyo Hani Susanto mengatakan, tim gabungan dari sejumlah instansi dan sukarelawan disebar di beberapa titik untuk melakukan pencarian terhadap 20 orang yang dilaporkan hilang.

"Tanggap darurat hari kelima masih proritaskan pencarian korban yang hilang," kata Letkol Arm Setyo.

Ia menjelaskan, berdasarkan data terakhir yang dihimpun Posko Penanggulangan Bencana Garut, sudah ditemukan 33 orang korban banjir dalam keadaan meninggal. Tapi, dua korban di antaranya masih diidentifikasi identitasnya.

Ia berharap proses pencarian dapat segera berhasil menemukan warga yang dilaporkan hilang pascabencana. Letkol Arm Setyo mengatakan selain fokus pada pencarian korban hilang, anggotanya diperintahkan membantu membersihkan tempat yang penuh puing-puing bangunan rumah.

"Daerah mana saja yang banyak puingnya maka akan saya kerahkan banyak petugas untuk membersihkannya, termasuk kendaraan angkutannya," ujarnya.

2.200 Pelajar

Sebanyak 15 sekolah di Kabupaten Garut terdampak banjir bandang pada awal pekan ini. Kegiatan belajar mengajar terganggu karena banyak siswa yang menjadi korban dan kehilangan perlengkapan sekolah.

Kepala Bidang Pendidikan Dasar, Dinas Pendidikan Kabupaten Garut, Totong mengatakan banyak anak-anak yang tidak mempunyai perlengkapan sekolah. Perlengkapan sekolah milik mereka hanyut dan terendam air bah dari luapan Sungai Cimanuk.

"Sekitar 2.200 anak-anak terkena dampak banjir. Jadi sekitar 2.200 anak-anak membutuhkan perlengkapan sekolah," kata Totong, kemarin.

Ia menerangkan, perlengkapan yang dibutuhkan seperti tas, sepatu, seragam, alat tulis untuk siswa PAUD, SD, SMP dan SMA. Sementara, sekolah yang terdampak di antaranya, dua SD, delapan SMP dan satu SMA. Selain itu, ada dua SLB dan dua Sekolah Kelompok Bermain yang juga terdampak.

"Semua sekolah itu terendam air banjir. Sehingga kursi, meja, lemari dan papan tulis serta buku-buku terendam air," ujarnya.

Ia menerangkan, dari 15 sekolah yang terdampak, ada delapan yang cukup parah. Menurutnya, parah karena lab komputer, perpustakaannya dan peralatan belajar mengajar rusak. Bahkan ada sekolah yang dinding pagarnya roboh.

Totong mengatakan hari pertama pascabencana sekolah diliburkan. Hari kedua, Dinas Pendidikan Kabupaten Garut menginstruksikan untuk tetap menjalankan kegiatan belajar mengajar.

Ia menerangkan, misalkan kelas di lantai bawah terkena dampak banjir. Maka kegiatan belajar mengajar dipindahkan ke kelas di lantai dua. Menurutnya, ada juga siswa SD yang menumpang belajar di SD terdekat yang tidak terkena dampak banjir.

Namun, karena korban masih banyak yang tinggal di pengungsian, Totong menjelaskan, Dinas Pendidikan akan menyelenggarakan sekolah darurat di pengungsian. "Supaya anak-anak tetap dapat sekolah," ujarnya. (rpk/kcm/net)

Share

0 komentar:

Posting Komentar