
LENSAINDONESIA.COM: Masih dipersulitnya izin dalam hal investasi para calon pengusaha asing khususnya, maupun domestik oleh pemerintah pusat mendapat kecaman dari anggota dewan.
Anggota Komisi VI DPR RI Bambang Haryo menyebut Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKMP) Pusat yang biasa mengurusi perizinan investasi ternyata menghentikan pelayanan perizinan melalui online. Belum lagi ditambah regulasi yang berubah-ubah dari kementerin teknis.
Ini diketahui langsung dari Dinas Pendapatan Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPM-PTSP) atau yang sebelumnya dikenal Badan Penanaman Modal (BPM) Jawa Timur.
BKPM Pusat kini mewajibkan para calon investor yang masuk di setiap wilayah manapun di Indonesia harus mendaftar langsung di Jakarta. Tak lagi lewat provinsi, yang harusnya bisa mempersingkat waktu dalam hal perizinan.
Menurutnya hal inilah yang menjadi salah satu kendala di Provinsi Jatim, sehingga pihak DPM-PTST Jatim tak bisa menjadi koordinator bagi para calon investor yang masuk di wilayahnya.
“Para investor jadinya jalan sendiri-sendiri. Padahal Pakde Karwo (Gubernur Jatim) kan sudah membuat sistem online untuk mengurus perizinan agar cepat, dengan sistem channeling itu. Namun rupanya ini
hanya dijalan pusat selama beberapa bulab saja. Ini yang akan kami tindaklanjuti ke BKPM Pusat,” kata Bambang, Senin (8/5/2017).
Pihaknya menilai sistem yang telah dibangun Pakde Karwo membawa banyak dampak positif yang pasti untuk mempercepat perizinan para calon investor.
“Akibatnya apa, pertumbuhan nilai investasi tidak meningkat, malah turun cukup signifikan. Misal di triwulan pertama tahun 2017 ini turun mencapai 5 persen dibanding triwulan pertama tahun lalu,” ungkap politisi Partai Gerindra ini.
Lebih lanjut dikatakan, Jatim ini merupakan tempat yang sangat potensial untuk melakukan investasi. Sebab sejumlah infrastruktur jalan di Jatim yang paling panjang.
“Jatim ini sangat menarik untukinvestasi. Infrastruktur jalannya adalah terpanjang dari provinsi lain yang ada di Jawa,” imbuh anggota DPR RI Dapil I (Surabaya-Sidoarjo) ini.
Sementara, untuk total pertumbuhan investasi di Jawa Timur pada tahun 2016 mengalami penurunan signifikan, sekitar Rp 13 triliun. Dijelaskan Kabid Data dan Sistem Informasi DPM-PTSP Jatim Dyah Erna angka investasi di Jatim di tahun 2015, total realisasi investasi di Jawa Timur mencapai Rp 95,77 triliun. Namun di 2016 angka itu turun menjadi 82,14 triliun.
“Jadi hanya sedikit mengalami penurunan, yaitu turun Rp 13 triliun,” cetus Dyah.
Sedangkan untuk 2017 ini, di triwulan pertama, angka investasi di Jatim diakui Dyah belum terlalu tinggi, yaitu mencapai Rp 9,8 triliun. “Di triwulan pertama memang biasanya kecil. Baru di triwulan kedua terjadi penumpukan data yang belum terkumpul,” tandasnya.@sarifa
0 komentar:
Posting Komentar