Sabtu, 08 April 2017

Karimun Krisis Narkoba

KARIMUN (HK)- Penyelundupan narkoba ke Karimun makin tak terbendung. Setiap hari, pasokan narkoba ke daerah berjuluk "Bumi Berazam" itu mencapai setengah kilogram. Jumlah tersebut sudah bisa dikatakan Karimun krisis narkoba.
" Karimun bukan darurat narkoba lagi, tapi sudah dalam fase krisis narkoba. Informasi dari staf kami di lapangan, pasokan narkoba khususnya jenis sabu-sabu ke Karimun mencapai setengah kilogram dalam satu hari. Ini sudah sangat mengkhawatirkan," ungkap Kepala BNN Karimun Kompol Ahmad Soleh di Tanjungbalai Karimun, Jumat (7/4).

Kata Soleh, pemakai narkoba jenis sabu-sabu di Karimun didominasi oleh para pekerja perusahaan. Tujuan mereka mengkonsumsi barang haram itu adalah untuk menambah semangat kerja. Para pekerja itu biasanya menggunakannya di rumah yang berada di komplek atau perumahan karyawan.

"Dulu para pengguna narkoba ngetrend mengkonsumsinya di diskotik, pub atau kamar hotel. Namun, sekarang para pecandu narkoba lebih banyak memakainya di rumah secara bersama-sama atau sendiri-sendiri. Biasanya, yang banyak memakai itu adalah para pekerja atau buruh perusahaan," jelasnya.

Selain para buruh, kata Soleh, sabu-sabu juga sudah merambah ke tingkat pelajar maupun ibu rumah tangga. Dari sejumlah kasus yang berhasil diungkap pihak kepolisian, ada beberapa kasus diantara pengguna maupun pengedar malahan ibu rumah tangga dan pelajar setingkat SMA.

Ahmad Soleh menyebutkan, parahnya lagi peredaran narkoba juga menyentuh aparat penegak hukum. Untuk menekan peredaran narkoba di Karimun maka semua stakeholder terkait mulai dari pemerintah daerah, penegak hukum dan pelaku usaha harus terus bersinergi dan mengilangkan ego sektoral.

" Peredaran narkoba sudah menyentuh level aparat penegak hukum. Makanya, sulit bagi kita untuk memutus rantai peredaran narkoba. Makanya, wajar kalau Karimun disebut krisis narkoba. Sudah saat semua komponen masyarakat, termasuk juga para tokoh Agama, adat dan para orang tua untuk sama-sama menjaga Karimun dari bahaya penggunaan narkoba ini," jelasnya.

Alasan lain makin merebaknya peredaran narkoba, kata Soleh, adalah kurang tanggapnya masyarakat terhadap permasalahan narkoba. Belum adanya sinergi antar kementerian lembaga Pemda, dunia usaha dan organisasi masyarakat.

Bahkan, ada kampung-kampung tertentu yang rawan narkoba. Kalau di Karimun memang belum ada kampung yang rawan narkoba, namun Meral hampir mendekati.

"Belum adanya standardisasi program pencegahan serta kurangnya SDM yang mendukung program rehabilitasi. Maka dari itu, ke depannya masing-masing instansi harus sama-sama bersinergi dan membuang jauh ego sektoral. Sehingga, akan muncul satu kekuatan untuk menekan peredaran narkoba," tutur Soleh. (ham)

Share

0 komentar:

Posting Komentar