Kamis, 20 April 2017

Ekonomi Dinilai Mulai Membaik

BI Rate Ditetapkan 4,75 Persen

Jakarta (HK)- Bank Indonesia (BI) mencatat laju pertumbuhan penyaluran kredit oleh industri perbankan terus membaik seiring dengan pulihnya perekonomian. Pada Februari 2017 kredit tumbuh 8,6 persen, lebih baik dari penyaluran di bulan Januari 8,3 persen.
Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia memutuskan untuk menahan BI 7-Day Reverse Repo Rate pada angka 4,75 persen berikut lending dan deposit facility masing-masing 5,5 persen dan 4 persen.

Meski bunga acuan tetap, transmisi pelonggaran moneter terus berlanjut pada suku bunga kredit di pasar. Keputusan ini diambil untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan seiring membaiknya prospek ekonomi global tengah.

"Prospek ekonomi memang tengah membaik tetapi Bank Indonesia tetap akan fokus untuk mendorong berlanjutnya proses pemulihan perekonomian domestik," ujar Direktur Departemen Komunikasi Bank Indonesia Tirta Segara dalam konferensi pers bulanan usai mengikuti RDG BI di Kompleks Bank Indonesia, Jakarta, Kamis (20/4).

"Koordinasi dengan Pemerintah akan terus dilanjutkan untuk mengendalikan inflasi dan mendorong kelanjutan reformasi struktural." tambahnya.

Tirta juga mengatakan, transmisi pelonggaran kebijakan moneter dan makroprudensial masih tetap berlanjut, namun semakin terbatas sejalan dengan kehati-hatian bank dalam mengelola resiko kredit. Tirta menguraikan bunga kredit modal kerja (KMK) sudah turun 113 basis poin (bps) jika dibandingkan dengan Februari tahun lalu. Bulan sebelumnya, penurunannya lebih rendah 1 bps yakni 112.

Penurunan bunga yang lebih besar terjadi pada kredit konsumsi, yakni 7 bps dalam sebulan. Pada Januari posisi penurunan bunga baru 30 bps yoy, namun di Februari angkanya sudah mencapai 37 bps yoy. Sejalan dengan turunnya bunga kredit, penyalurannya pun mengalami peningkatan. Tirta menguraikan Februari 2017 penyaluran kredit tumbuh 8,6 persen, padahal di Januari pertumbuhannya hanya 8,3 persen.

Namun, berbeda dengan dua jenis kredit lainnya, bunga kredit investasi yang semula di Januari sudah turun 96 bps yoy, pada bulan Februari penurunannya malah susut jadi 83 bps. Penurunan juga terjadi pada pertumbuhan perolehan dana pihak ketiga (DPK) dari 10 persen yoy di Januari menjadi 9,2 persen yoy.

Menurut Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi Moneter Dody Budi Waluyo semestinya transmisi pelonggaran moneter bisa terus berlanjut mengingat pelonggaran BI 7-DRR tahun lalu mencapai 150 bps.

"Kalau melihat potensi penurunan suku bunga harusnya masih bisa saja terjadi karena sekarang perbankan masih lakukan konsolidasi dan efisiensi usaha karena didorong ada korporasi yang konsolidasi terkait dengan leverange terhadap perbankan. Artinya korporasi sekarang mengupayakan efisiensi keuangannya itu akan berdampak pada perbaikan pembayaran utang ke banknya untuk lebih baik," jelas Dody.

Menurutnya, bank akan melihat pembayaran utang dari beberapa debitur besar akan lebih baik performance mereka. Tentu akan terlihat dari sisi NPL akan mengecil, pada akhirnya kemampuan bank akan lebih baik dalam memberikan pinjaman (lending).

"Standar lending lebih turun sehingga suku bunga kredit harusnya lebih turun karena premi risiko turun," tambah Dody.

Dari tiga jenis bunga kredit yang dikelompokkan BI, lanjut Dody, belum ada yang terelaksasi sampai 150 bps. Sehingga penurunan bunga kredit masih terus berlanjut. "Sekarang secara total penurunannya baru 93 bps, ini per Maret 2017. Jadi masih ada room untuk penurunan suku bunga pinjaman, tergantung seberapa cepat bank berkonsolidasi menurunkan bunganya," Pungkas Dody.

"Koordinasi dengan Pemerintah akan terus dilanjutkan untuk mengendalikan inflasi dan mendorong kelanjutan reformasi struktural." Tirta juga mengatakan, keputusan yang dihasilkan dalam Rapat Dewan Gubernur BI setelah melihat ekonomi Amerika, Eropa, dan Tiongkok yang terus mengalami perbaikan.

"Ekonomi Amerika Serikat semakin meningkat akibat didukung konsumsi, kondisi ketenagakerjaan yang positif, dan investasi yang kembali bergairah," kata Tirta. Kenaikan harga minyak telah memperbaiki investasi, terutama di sektor energi.

Sementara itu, perekonomian Eropa juga berpeluang untuk meningkat sebagai hasil dari perbaikan ekspor dan konsumsi. "Lalu Tiongkok, yang perekonomian diprediksi akan tetap kuat, karena didukung oleh konsumsi dan investasi, terutama infrastruktur," kata Tirta.

"Meskipun demikian, sejumlah resiko tetap harus diwaspadai, di sisi domestik seperti dampak penyesuaian administered prices terhadap inflasi," kata Tirta.

Administered prices mengacu kepada harga produk dan layanan yang besarannya ditetapkan pemerintah seperti listrik dan bahan bakar minyak. Resiko lain, kata Tirta, adalah masih berlanjutnya konsolidasi korporasi dan perbankan, yang menyebabkan belum optimalnya dampak stimulus perekonomian.

Sementara untuk sisi global, Tirta menambahkan jika wacana penurunan besaran neraca bank sentral Amerika Serikat juga harua tetap diwaspadai. "Harus dicermati dampaknya terhadap pasar keuangan global terkait wacana itu, selain juga resiko dari kelanjutan kenaikan suku bunga The Fed. (tmp/mei)

Share

0 komentar:

Posting Komentar