Rabu, 12 April 2017

Berpikir Institute sebut peluang kader parpol menangi Pilgub Jatim 2018 rendah

Direktur Eksekutif Berpikir Institute Romel Masykuri menunjukkan hasil survei lembaganya terkait Pilgub Jatim 2018. Foto: Sarifa-lensaindonesia

LENSAINDONESIA.COM: Lembaga survei dan analisa Berpikir Institute membeberkan hasil survei terkait Pilgub Jawa Timur 2018. Salah satunya terkait peluang seorang kader murni dari partai politik sangatlah rendah untuk memenangkan Pilgub Jatim nanti.

“Berdasarkan analisa dan data yang kami lakukan, potensi menang bagi partai politik yang mengusung calonnya sendiri sebagai gubernur adalah sangat rendah,” ungkap Direktur Eksekutif Berpikir Institute Romel Masykuri kepada wartawan di Surabaya, Rabu (13/4/2017).

Menurut dia, dilihat dari keragaman calon kandidat potensial yakni pemilik poin tertinggi adalah kader non-partai, maka partai pengusung potensial idealnya melakukan koalisi ideologi serumpun dan koalisi besar lintas ideologi.

Ia menjelaskan, dari indikator inkumbensi yang meliputi prestasi, bersih dan akuntabel, ada nama Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf dan Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa yang bersaing ketat di angka 8-8-8 dan 8-8-7.

Begitu pula di indikator popularitas yang meliputi daerah, wilayah dan nasional, keduanya sama-sama bernilai 8-8-8. Tak itu saja, dari indikator penerimaan partai politik yang meliputi intra, inter dan koalisi sama-sama mencapai angka 8-8-8.

“Dua kandidat tersebut bukan kader murni salah satu partai politik dan sangat berpeluang memenanginya. Artinya, sangat rendah kemungkinan kader partai menyaingi, bahkan memenangi Pilkada,” katanya.

Dari nilai total analisa lembaganya, lanjut dia, partai politik harus berhitung untuk mengusung kader atau pimpinan partainya maju sendirian sebagai kandidat, terutama calon gubernur.

“Dibutuhkan koalisi partai pengusung komposisi pasangan ideal yang mempunyai kekuatan signifikan sehingga memudahkan mesin partai bisa bekerja optimal dalam pemenangan Pilkada Jatim mendatang,” imbuh Romel.

Selain dua nama calon itu, nama lainnya yang muncul dan punya peluang di pertarungan Pilgub yakni Azwar Anas (Bupati Banyuwangi), Tri Rismaharini (Walikota Surabaya), Budi ‘Kanang’ Sulistiyono (Bupati Ngawi), Suyoto (Bupati Bojonegoro), Abdul Halim Iskandar (Ketua DPRD Jatim), Nyono Suharli (Bupati Jombang), Masfuk (mantan Bupati Kabuaten Lamongan) dan Edy Rumpoko (Walikota Batu).

“Dilihat dari keragaman calon kandidat potensial di mana pemilik poin tertinggi adalah kader non-partai, maka partai pengusung potensial idealnya melakukan koalisi ideologi serumpun dan koalisi besar lintas ideologi. Potensi menang bagi partai yang mengusung calonnya sendiri, sangat rendah,” pungkasnya didampingi Pengamat Politik Unair Novri Susan.

Hasil analisa dan perolehan data dari nilai-nilai tersebut didapat dengan cara menganalisa forecasting politik bagi kandidat selama Februari-April 2017 menggunakan data sekunder. Sumber data yang digunakan berasal dari sumber resmi kementerian terkait penghargaan, lembaga nasional dan internasional terhadap kinerja institusi pemerintah dan perseorangan.

Berikutnya, berdasarkan hasil survei agregat yang dilakukan berbagai lembaga kredibel dalam rentang 2004-2016, kemudian analisis media massa (rekam jejak figur) dan analisis persepsi elit politik (wawancara dan opini di media massa).

Metode analisis yang digunakan adalah konversi hasil memasukkan sumber dalam skala interval 1-9, dengan 1-3 (lemah), 3-5 (sedang), 5-7 (kuat) dan 7-9 (sangat kuat).@sarifa

0 komentar:

Posting Komentar