Kamis, 23 Maret 2017

Radikalisme akibat frustasi ekonomi, KNPI: Ini adalah persoalan bersama

radikalisme-dan-terorismeGerah kerukunan Nusantara terus terganggu, masyarakat pun menggelar aksi 'lawan' radikalisme dan terorisme. @foto:Ilustrasi/ist

LENSAINDONESIA.COM: Belakangan ini, masyarakat seperti “terteror” dengan munculnya kelompok-kelompok radikal di Indonesia. Ironisnya, kemunculannya bisa saja akibat rasa frustasi, baik frustrasi terhadap kondisi ekonomi, sosial, politik bahkan bisa muncul juga dari pemahanan keagamaan yang ekstrem.

Ketua Hubungan Luar Negeri Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), Doni Harsiva Yandra menyarakankan,  pemerintah dalam hal ini kementerian atau lembaga/badan yang terkait perlu terus didorong untuk bersinergi dengan kelompok atau organisisasi masyarakat dan pemuda untuk menyikapi masalah radikalisme di tanah air.

Menurutnya, pendekatan pemberantasan dan pencegahan tidak cukup hanya dengan pendekatan hukum positif. Namun, juga harus ada upaya penangkalan dini agar benih-benih radikalisme tidak tumbuh dan berkembang.

“Disisi ini peran-peran kelembagaan di masyarakat sangat penting baik kelembagaan yang berbasis agama seperti NU, Muhammadiyah, dan lainnya yang mampu menjangkau secara langsung aktivitas sosial masyarakat,” ujar Doni di Jakarta, Kamis, (23/3/2017).

“Dari sisi kepemudaan, pelibatan organisasi-organisasi kepemudaan yang ada, baik KNPI maupun organisasi kepemudaan lainnya, komunitas-komunitas anak muda perlu dioptimalkan, sehingga ruang penyemaian dan pertumbuhan benih radikalisme ini dipersempit,” imbuhnya.

Lebih jauh Doni menjelaskan, bahwa persoalan radikalisme merupakan persoalan bersama karena dapat mengancam eksistensi berbangsa dan bernegara. Indonesia adalah bangsa yang majemuk, penting untuk memperkuat persatuan dan kesatuan NKRI.

“Harus dibangun kesadaran bersama dan semua pihak bahwa persoalan ini adalah persoalan bersama,” tegas Doni.

Radikalisme, kata Doni, cenderung menyasar kelompok-kelompok muda. Dalam prakteknya gerakannya cenderung memaksakan kehendak bahkan menghadirkan ancaman teror.

“Radikalisme dan terorisme Ibarat dua sisi mata uang yang tak terpisahkan,” terangnya.

Menurutnya, dari sisi ideologi Pancasila, paham-paham radikalisme dan terorisme ini tidak mendapat tempat. Menabrak sendi-sendi kemanusiaan, mengancam persatuan dan kesatuan bangsa yang terlahir majemuk ini.

“Oleh karena itu dalam bentuk apapun dan atas dasar motif apapun radikalisme dan terorisme harus dicegah dan diberantas,” tukasnya.

Di era teknologi informasi yang berkembang dahsyat ini, penyebaran paham-paham radikal yang destruktif ini juga akan cepat merambat dan bertumbuh.

“Tidak ada cara lain mengatasinya selain semua pihak harus bergandengtangan,” pungkas Doni. @yuanto

0 komentar:

Posting Komentar