Longsor di Limapuluh Kota# Empat Orang Meninggal Dunia
Limapuluh Kota (HK)- Banjir dan longsor melanda Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat, Jumat (3/3). Akibatnya, jalan utama yang menghubungkan Sumatera Barat dengan Riau putus total. "Jalur Sumatera Barat-Riau lumpuh. Kondisi jalan sangat rawan," ujar Bupati Limapuluh Kota Irfendi Arbi, Jumat (3/3).
Menurut dia, longsor terjadi di sejumlah titik di Kabupaten Limapuluh Kota, seperti di kawasan Air Putih dengan 1 titik, jalur Maek 3 titik, dan Nagari Kota Alam 3 titik. Hal itu menyebabkan jalur Sumbar-Riau tak bisa dilalui karena material longsor menimbun badan jalan.
Banjir juga terjadi di sepuluh titik lain, seperti di Nagari Sopang, Nagari Gunung Malintang, Kecamatan Kapur IX, Limbanang Baruah, Nagari Mungka, Nagari Subarang Air, Nagari Taram, Nagari Batu Balang, dan Buluh Kasok, Nagari Sarilamak. Banjir terparah terjadi di Nagari Pangkalan dengan ketinggian air 4 meter.
"Sekitar pukul 04.00 WIB tadi, banjir terjadi di Kecamatan Pangkalan Koto Baru atau di jalur Sumatera Barat-Riau. Ketinggian air mencapai 4 meter," tuturnya. Irfendi mengimbau pengguna jalan tidak mengakses jalur tersebut. Sebab, ada sejumlah titik yang rawan longsor dan banjir yang menutup jalan.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah Sumatera Barat Pagar R. Negara mengatakan masyarakat di Nagari Pangkalan melakukan evakuasi sendiri. Sebab, tim SAR belum bisa masuk kawasan banjir karena longsor menutupi badan jalan menuju lokasi.
Banjir dan longsor, ucap dia, diduga akibat hujan deras yang turun di kawasan tersebut, sehingga sejumlah sungai meluap, seperti Batang Maek dan Sungai Batang Sanipan. "Akses menuju lokasi banjir juga terputus. Ada beberapa titik longsor, sehingga jalur menuju lokasi tertutup material longsor," ujarnya, Jumat (3/3).
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho menyebutkan ada 12 titik banjir yang melanda tujuh kecamatan.
Adapun korban dalam peristiwa tersebut, Sutopo mengatakan ada empat orang meninggal dunia yang baru terdata sementara. Korban yang meninggal dunia itu disebabkan delapan mobil yang tertimpa longsor di KM17 Koto Alam, Kecamatan Pangkalan.
Akibat banjir dan longsor, PLN juga memutus aliran listrik di beberapa wilayah dan membuat komunikasi menjadi sulit. Bahkan, Sutopo melanjutkan, beberapa daerah mengalami blank spot sinyal.
Pendataan warga yang terdampak banjir, khususnya di Kecamatan Pangkalan, juga belum dapat dilakukan dengan maksimal. "Karena belum dapat tembus ke lokasi sehingga data jumlah jiwa terdampak belum dapat terlaporkan," ujarnya.
Sutopo menuturkan peristiwa tersebut menimbulkan kerugian materil, di antaranya ratusan unit rumah terendam, lima dusun terisolir, adanya empat titik longsor di Kelok 17. Salah satu korban tewas yang diketahui identitasnya adalah Don (40) warga Sungai Limau, Padang. Korban merupakan sopir yang membawa kelapa dengan tujuan Duri, Kabupaten Bengkalis, Riau.
Dalam perjalanannya, mobil yang dibawanya bersama adiknya, terjebak longsoran. Sehingga mobil terpaksa berhenti. Begitu juga sejumlah mobil lainnya. Saat menunggu di tengah jalan, tiba-tiba longsor kembali terjadi. Sehingga banyak mobil lainnya yang tertimbun longsor. (dtc/tmp)
Share
0 komentar:
Posting Komentar