Minggu, 05 Maret 2017

Dukung Anies-Sandi, Titiek dan Mamiek bangkitkan kekuatan dinasti Soeharto

Pasangan Cagub DKI Jakarta AniesBaswedan- Sandiaga Uno saat bertemu Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto serta mantan istrinya, Titiek Soeharto, di sebuah restoran di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (22/02/2017) malam. Foto: Warta Kota

LENSAINDONESIA.COM: Peneliti Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (FORMAPPI) Lucius Karus menilai, sikap politisi Partai Golkar Titiek Soeharto (Siti Hediati Hariyadi) yang secara pribadi mendukung pasangan calon Gubernur DKI Jakarta nomor urut 3, Anies Baswedan-Sandiaga Uno adalah sah-sah saja.

Dukungan Titiek secara pribadi ini dianggap sebuah kewajaran, meski partainya telah menentukan dukungan terhadap pasangan cagub nomor urut 2, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Saiful Hidayat dalam Pilgub DKI Jakarta 2017.

Sebagaimana diketahui, Golkar memang tengah memproses sikap putri mendiang presiden kedua RI Soeharto yang tidak sejalan dengan partai ini.

“Pilihan Titiek tentu saja merupakan keputusan pribadi karena sebagaimana diketahui bahwa dirinya merupakan kader Partai Golongan Karya. Akan tetapi sebagai kader partai tertentu, pilihan memberikan dukungan pribadi yang berbeda dengan parpol biasanya akan berdampak pada status keanggotaannya di parpol,” katanya di Jakarta, Senin (06/03/2017).

Selain Titiek, putri Soeharto, Siti Hutami Endang Adiningsih atau yang akrab disapa Mamiek Soeharto juga memberikan dukungan terhadap pasangan Anies-Sandi. Dukungan ini resmi diberikan setelah Mamiek bertemu dengan Sandiaga Uno  di Restoran Merah Delima, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (03/03/2017) lalu.

Lucius juga memandang bahwa dukungan dua putri ‘Cendana’ terhadap Anies-Sandi ini sebagai sesuatu hal yang menarik untuk diperhatikan. Sebab kakak beradik ini memiliki kebaranian untuk mengambil posisi yang berbeda dengan Partai Golkar yang menaungi mereka.

“Keduanya cukup percaya diri sebagai politisi. Tentu saja kepercayaan diri mereka itu pasti punya dasar. Mereka sangat mungkin masih menganggap diri sebagai bagian dari kekuatan politik yang berpengaruh,” jelasnya.

Kesadaran sebagai pihak yang memiliki kekuatan itulah, lanjut Lucius, Titiek dan Mamiek menjadi berani mengambil resiko dalam pilihan politik mereka.

“Nyatanya walaupun sebagai kader Golkar, kedekatan mereka di masa lalu dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto membuat Titiek dan Mamiek akan lebih aman bersama dengan gerbong Prabowo ketimbang mengikuti permainan Golkar yang sudah banyak diisi oleh kader-kader yang tidak memiliki ikatan emosional dengan dinasti Soeharto,” ujarnya.

“Mereka sangat mungkin hanya dikenang sebagai bagian dari kejayaan Golkar masa lalu, tetapi itu tak bisa menjadi modal untuk menjadi elit kunci di Golkar. Sebagaimana partai-partai memang cenderung untuk pragmatis, maka setiap kader akan berupaya mencari untung bagi diri dan kelompoknya masing-masing. Kecenderungan pragmatisme itu tidak memberikan jaminan bagi mimpi keduanya untuk menyerahkan dukungan sesuai dengan arah partai,” ujar Lucius.

Bagi Titiek dan Mamiek Soeharto, ungkap Lucius, sulit untuk memegang janji apapun dari elit partai yang bersifat pragmatis. “Oleh karena itu kembali kepada relasi emosional yang diwakili oleh figur Prabowo akan lebih memberikan kenyamanan bagi dinasti Soeharto yang diwakili oleh Titiek dan Mamiek,” paparnya.

Lucius berpendapat, hal penting lainnya yang bisa dikatakan dari pola permainan politik Titiek dan Mamiek adalah soal upaya Cendana untuk mengembalikan kekuatan dinasti Soeharto. “Bagi mereka kekuasaan Soeharto yang begitu lama tak bisa dilupakan begitu saja. Dan semakin mereka menjauh dari permainan politik yang terjadi, semakin nama Soeharto dan dinastinya akan tenggelam dari percaturan politik Indonesia saat ini,” terangnya.

“Soeharto berbeda dari Soekarno yang memang berhasil membentuk pengikut setia karena jejak-jejak ideologis yang dipelihara secara turun temurun, itu artinya perlu upaya dari keluarga SOeharto sendiri untuk memastikan bahwa dinasti mereka harus tetap diperhitungkan. Karena tak punya massa ideologis seperti Soekarno maka untuk memastikan rantai kekuasaan Soeharto, peran dari anak-anak Soeharto sendiri yang diandalkan,” ujar Lucius.

“Beruntungnya misi itu bisa diupayakan karena walaupun tak ada massa ideologis yang memelihara ingatan publik akan Soeharto, kekuatan finansial dinasti Cendana nampaknya masih sangat diperhitungkan. Satu-satunya cara agar mereka bisa kembali ke pusaran utama kekuasaan dengan memanfaatkan kekuatan finansial untuk meniti jalan kembali ke kekuasaan,” tambahnya.

Menurutnya lagi, kekuatan finansial itu bisa membuka ruang bagi keluarga soeharto untuk bisa mempengaruhi parpol sekaligus bisa berada di elit kekuasaan parpol.

“Tentu saja pilihannya adalah bergabung dengan elit parpol yang saat ini sudah eksis. DInasti Soeharto sendiri sudah berupaya untuk merebut kembali Golkar, namun gagal. Mereka juga pernah berupaya membentuk partai sendiri walau nasibnya juga tak berbuah hasil. Oleh karena itu pilihan mengikuti parpol yang sudah ada terutama partai yang elitnya masih mempunyai relasi emosional dengan Cendana merupakan pilihan yang bijaksana. Mereka bisa dengan lebih percaya diri untuk mempengaruhi elit parpol tersebut. Dan berharap bahwa upaya itu akhirnya bisa menghantarkan mereka sebagai bagian inti dari parpol tersebut sehingga jalan untuk kembali ke lingkaran kekuasaan menjadi mudah untuk diperjuangkan,” paparnya.

“Bergabung sebagai pribadi dengan Tim ANies-Sandi yang didukung Gerindra yang dikendalikan Prabowo merupakan pintu masuk,”pungkas Lucius.@dg

0 komentar:

Posting Komentar