Dia menilai pidato Megawati itu telah menghina semua hal yang terkait dengan Islam dan merupakan penistaan yang sangat menusuk rasa keimanan umat Islam.
“Megawati telah menghina iman umat Islam karena salah satu bunyi rukum iman percaya pada hari akhir dan kalau tidak percaya hari akhir maka dia bukan Islam,” ujar Raden Muhammad Syafi’i di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (12/1).
Firman Allah mengenai akhirat dan sebagainya menurut pria yang kerap disapa Romo ini adalah berita dari Allah dan bukanlah sebuah ramalan seperti yang dikatakan Megawati.
”Kalau memang dia tidak percaya maka lebih baik dia diam saja dan tidak usah menghasut umat untuk ikut tidak percaya pada keyakinannya. Kalau dia tidak percaya tidak perlu juga diomongkan seperti itu, yah diam-diam saja. Indonesia bisa rukun dan damai karena mayoritas bangsa Indonesia percaya pada Allah, apa dia tidak sadar?,” imbuhnya.
Dia yakin bahwa pidato tersebut bukan ditulis langsung oleh Megawati. Namun menurutnya, baik Megawati maupun penulis pidato itu jelas tidak memiliki pemahaman yang baik tentang apa yang diucapkan dan yang dituliskannya.
”Megawati sebagai pembaca pidato yang dibuat orang lain itu saya yakin sama-sama tidak memahami dan memiliki pengetahuan agama yang cukup baik sehingga bisa berbicara dan menulis pidato yang demikian menyakitkan umat Islam,” imbuhnya.
Mereka menurut Romo tidak memahami kultur dan semangat religiusitas di Indonesia. Kehidupan beragama di Indonesia selama ini sudah berjalan dengan baik, kerukunan umat beragama juga sudah terawat dengan baik dan tentu ini karena dipelihara oleh masing-masing pemeluk agama dan terutama yang paling menentukan adalah sikap dari mayoritas pemeluk Islam yang sangat toleran.
“Karena itu kalau berbicara hendaknya disesuaikan dengan kapasitas. Jika akhirat dikatakan ramalan jelas mereka tidak memahami itu. Sikap seperti ini bisa mengobok-obok kerukunan," kata Romo.
Karena itu, dia menghimbau kepada semua pemimpin yang ada di republik ini untuk berbicara sesuai kapasitas dan menjaga persatuan dan kesatuan, merawat kerukunan umat beragama. "Jangan sekali-sekali berbicara rasis baik untuk bangsa sendiri maupun bangsa lain di dunia serta menjaga sopan santun tata budaya bangsa,” tegasnya.
Dia sepakat bahwa bangsa indonesia memang tidak perlu menjadi seperti bangsa lain tapi perlu dipahami bahwa dalam ibadah-ibadah Islam itu banyak yang menggunakan bahasa Arab. Ini menurut Romo bukan berarti kita menjadi seperti bangsa Arab.
“Selain itu sangat tidak layak kalau kita mendeskreditkan bangsa lain hanya karena persoalan agamanya,” ujar Pria yang dikenal dengan doanya yang menggemparkan dalam sidang Istimewa DPR beberapa waktu lalu. (sam)
Share
0 komentar:
Posting Komentar