Kamis, 26 Januari 2017

Kapolda: PKI Sudah Tidak Ada

Jakarta (HK)- Kepala Polda Metro Jaya Inspektur Jenderal M. Iriawan menanggapi santai pernyataan Ketua Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Syihab soal adanya kebangkitan Partai Komunis Indonesia di Indonesia.
Menurut Iriawan, jika memang ada embrio kebangkitan PKI, pihaknya akan tahu. "Faktanya kan tidak ada, udah tidak ada PKI, tidak ada, bagaimana bisa bangkit? Kita tahu juga embrio kalo ada," kata Iriawan di Cakung, Jakarta Timur seperti dikutip Tempo, Selasa (24/1).

Iriawan menjelaskan, Rizieq menyatakan adanya kebangkitan PKI dari hasil dugaan logo palu arit di lembaran uang rupiah baru. Hal itu hanya asumsi Rizieq. Pasalnya, Bank Indonesia sebagai pencetak uang tersebut sudah menjelaskan bahwa logo itu sengaja dicetak dengan pengamanan rectoverso atau saling isi.

"Itu kan dibuat-buat saja. BI itu ahlinya lho. Ya, itu ahlinya sudah bicara kalo memang sistemnya rectoverso," kata Iriawan.

Sebelumnya, Rizieq menyampaikan perihal adanya kebangkitan komunisme setelah diperiksa di Mapolda Metro Jaya, Senin, 23 Januari lalu. Hal itu bahkan juga pernah disampaikan Rizieq saat berkunjung ke DPR. "Satu kalimat saja, perhatikan semua. Saya memberikan warning kepada bangsa Indonesia tentang adanya indikasi kebangkitan PKI," kata Rizieq.

Hantu Komunisme

Ketua Umum Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Agus Sunyoto menyebutkan paham komunisme seperti hantu yang digunakan untuk menakut-nakuti publik. "Sampai saat ini pun masih banyak orang tua yang takut dengan bayangan hantu komunis itu meski dalam fakta, komunis sudah runtuh pada 1990-an," kata Agus seperti dikutip dari Tempo, Rabu (25/1)

Agus mengatakan pernyataan Menteri Agama Lukman Hakim realistis. Menurut Agus, Lukman memahami kondisi saat ini yang cenderung tidak memiliki konflik berakar terhadap komunisme.
Ia mengatakan, saat ini, kecenderungan konflik peradaban berlatar agama.

"Beliau paham bahwa di era global ini yang dijalankan adalah skenario Samuel Huntington (di buku) The Clash of Civilization, di mana 'konflik' proletar-borjuis sudah berakhir. Yang mengemuka adalah konflik peradaban yang diwakili Kristen (peradaban Barat), Islam, dan Konghucu (peradaban Timur)," kata dia.

Adanya perubahan latar belakang ini, kata dia, mulai terjadi pada 1990-an. Salah satu dampaknya bagi umat Islam, yakni adanya stereotipe negatif, terutama bagi bangsa Arab. "Arab yang jadi stereotipe Islam biadab yang jadi momok dunia," kata Agus.

Hal ini diperparah dengan banyaknya organisasi teror yang mengatasnamakan Islam. "Lihat saja fakta yang bikin bom bunuh diri, menculik, membunuh orang sipil pasca-1990, apakah ada yang komunis?" kata Agus. (sfn)

Share

0 komentar:

Posting Komentar