Pasca Bentrok FBI dan GMBI
Bandung (HK)- Buntut bentrokan kecil di depan Mapolda Jabar pasca pemeriksaan Habib Rizieq, kedua ormas yakni GMBI dan FPI kembali terlibat kerusuhan. Hingga Jumat malam, sejumlah kerusuhan mirip perang pecah di sejumlah wilayah. Masa FPI menswepping masa GMBI ke sejumlah penjuru Bandung.
Perang dua ormas itu dipicu pemukulan seorang anggota ormas Sunda oleh FPI saat hendak mengambil motor. Kerusuhan juga pecah setelah ormas GMBI menyerang Ormas FPI yang mengawal Habib Rizieq keluar Mapolda Jabar usai diperiksa. Sejumlah laskar FPI dilarikan ke RS Al-Islam Bandung karena menderita luka serius akibat pukulan.
Sebuah mobil milik rombongan FPI Bogor juga dirusak masa GMBI. Kericuhan sempat mereda setelah diantisipasi ratusan aparat kepolisian yang berjaga. Namun, malam harinya kedua ormas tersebut kembali bentrok. 4 orang Laskar FPI diserang secara membabi buta di depan RM Ampera, Soekarno Hatta. Suasanapun semakin mencekam.
Masa FPI yang tidak terima dengan serangan GMBI melakukan sweeping di sejumlah wilayah. Bentrokpun pecah, ketika kedua kubu bertemu. Tak hanya di Bandung, kerusuhan juga terjadi di Tasik. Masa GMPI diserang masa FPI yang sedang mencarinya.
Sementara itu, Markas ormas GMBI di Kampung Tegalwaru, Desa Ciampea, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor dibakar massa, Jumat (13/1) sekitar pukul 02.00 dinihari. Atas peristiwa tersebut, 20 orang ditangkap polisi.
Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Kepolisian Daerah Jawa Barat Komisaris Besar Polisi Yusri Yunus menyebutkan, kejadian tersebut diduga imbas dari bentrokan antara gabungan ormas Bandung yang diantaranya GMBI dengan ormas Front Pembela Islam di depan Markas Polda Jabar, Kamis (12/1).
"Penyebab kejadian tersebut dipicu berkembangnya isu bahwa ada anggota FPI atas nama Syarief menjadi korban penusukan dan pengerusakan mobil akibat bentrok kemarin, sehingga memicu kemarahan massa FPI di Ciampea Bogor," kata Yusri.
Sebelum kejadian tersebut, Yusri menyebutkan, sekitar 150 orang dari jamaah Majlis Arasyafat Pondok pesantren At-Taqwa, Cikampak, Ciampea, Bogor, menanyakan ihwal lokasi markas GMBI di Bogor. Polisi, lanjut Yusri, langsung melakukan pengamanan. Namun, karena kalah jumlah, aksi pembakaran tersebut tak terhdindarkan.
"Sebelumnya telah melakukan himbauan dan negosiasi terhadap massa yang ingin mengetahui keberadaan markas GMBI namun tidak bisa dihalau karena kalah jumlah," ujar dia.
Yusri mengatakan, atas kejadian tersebut 1 unit rumah yang merupakan markas GMBI Bogor rusak. Tak ada korban jiwa dalam periatiwa itu. "20 orang telah kita amankan. Untuk kemudian dilakukan penyelidikan," ujarnya.
Selain di Kabupaten Bogor, kejadian pengrusakan sekretariat GMBI pun terjadi di Ciamis. Sekitar pukul 01.30, Jumat (13/1), massa melempari sekretariat dengan batu. "Betul, ada upaya pengrusakan juga. Tapi, pelakunya belum diketahui," ujar Yusri.
Kepala Kepolisian Daerah Jawa Barat Inspektur Jendral Anton Charliyan mengatakan tidak ada aksi penusukan terhadap anggota Front Pembela Islam, di Bandung, Kamis, 12 Januari 2017.
Isu penusukan tersebut menyebar setelah massa FPI dan gabungan ormas di Bandung terlibat bentrok di Markas Polda Jabar saat imam besar FPI menjalani pemeriksaan. "Isu satu santri ditusuk ternyata tidak benar," ujar Kapolda yang juga merupakan Ketua Dewan Pembina GMBI kepada wartawan, Jumat (13/1).
Isu penusukan anggota FPI tersebut tersebar di media sosial. Penusukan tersebut diduga terjadi di rumah makan Ampera jalan Soekarno-Hatta, Bandung.
Kendati membantah terjadi penusukan, Anton membenarkan ada keributan di rumah makan Ampera, Jalan Soekarno-Hatta, Bandung. "Memang ada keributan di Ampera. Sebelumnya ada ormas yang bukan GMBI dipukuli dan dibacok FPI. Dua orang. Mereka mencari ada di Ampera. Dengan tangan kosong bukan sajam," ujar Anton.
Anton berjanji polisi akan menindak tegas para pelaku yang membuat pelanggaran. Polda Jawa Barat telah melakukan penelusuran terkait adanya kerusakan paska-bentrok antar ormas di depan Mapolda Jabar. "Yang membuat keributan akan berhadapan dengan saya. Serahkan permasalahan kepada hukum. Kita akan menangani. Sangat menyesalkan tindakan pengrusakan," ujar dia.
Kapolda mengimbau kepada masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh isu yang belum jelas. "Tolong agar masyarakat jangan terprovokasi," ujarnya.
Untuk meredam gejolak massa yang dipicu bentrokan, Jumat siang, Kapolda mengundang petinggi PWNU Jabar dan Banser ke markasnya. Kapolda berharap masyarakat bisa berpikir dengan berkepala dingin dalam menyikapi isu yang berkembang.
Anton Charliyan mengakui bahwa dirinya menjadi ketua pembina ormas Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia (GMBI). “Saya memang banyak membina (ormas). Saya membina mereka ini agar beradab. Bukan hanya satu ormas... banyak,” ujar Anton.
Ormas GMBI merupakan salah satu ormas gabungan yang terlibat bentrok dengan FPI saat polisi memeriksa Rizieq Syihab di Markas Polda Jabar, Kamis, 12 Januari 2017.
GMBI beserta ormas lainnya melakukan unjuk rasa di depan Mapolda Jabar saat Rizieq diperiksa penyidik Polda Jabar. Mereka menuntut kepolisian menindak Rizieq atas dugaan menghina lambang negara yang sudah dilaporkan ke polisi.
Di hari yang sama, massa FPI pun mendatangi Polda Jabar untuk mengawal imam besarnya, Rizieq Syihab, saat diperiksa di Mapolda Jabar. Bentrokan di depan Mapolda Jawa Barat itu menjalar ke sebuah tindakan pembakaran kantor GMBI di Kabupaten Bogor. Selain itu, markas GMBI di Tasikmalaya dan Ciamis dilempari batu oleh sekelompok orang yang belum diketahui.
Kendati mengaku menjadi ketua pembina GMBI, Anton berjanji tidak akan tebang pilih dalam memproses hukum tindakan yang merusak. “Siapa pun akan ditindak tegas. Yang membuat keributan, akan berhadapan dengan saya,” ujar Anton.
Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigadir Jenderal Rikwanto mengatakan bahwa pemicu dari kejadian ini ialah munculnya informasi yang menyatakan adanya penusukan anggota FPI oleh anggota GMBI. Ia menegaskan bahwa informasi tersebut tidak benar.
"Sudah saya konfirmasi ke Polda Jabar itu belum ada faktanya," ujar Rikwanto di Mabes Polri Jakarta, Jumat (13/1).
Polisi menegaskan akan memeriksa dan memproses hukum para pelaku. Masyarakat diminta agar tidak bertindak main hukum sendiri jika menemukan pelanggaran tindak pidana. "Kita minta supaya dilaporkan ke kepolisian terdekat untuk di proses hukum," tegasnya. (tmp/mi)
Share
0 komentar:
Posting Komentar