Kamis, 29 Desember 2016

Indonesia jangan terdampak benih-benih konflik Amerika, Rusia, Cina

bamsoetBamsoet (kemeja batik) bersama para elit Golkar di DPR RI.

‎LENSAINDONESIA.COM: Jelang berakhirnya tahun 2016, Amerika Serikat, Rusia dan Cina sudah terperangkap dalam benih-benih konflik. Eskalasi ketidakpastian global pun tak terelakan sepanjang tahun 2017.

Demikian dikatakan Ketua Komisi III DPR RI membidangi masalah hukum, HAM dan keamanan, Bambang Soesatyo di Jakarta, Jumat (30/12/2016).

“Sudah barang tentu ketidakpastian global yang tereskalasi itu akan berdampak ke Indonesia. Namun, Jika mampu mewujudkan kepastian politik dan tertib hukum, Indonesia niscaya bisa menarik manfaat dari ketidakpastian global itu,” ujarnya.

Politisi Partai Golkar itu juga menyatakan eskalasi ketidakpastian global bersumbu pada faktor Amerika Serikat (AS) yang terbelah pasca pemilihan presiden November 2016, yang dimenangkan kandidat Partai Republik, Donald Trump. Faktor lainnya adalah perilaku kepemimpinan Trump sendiri. Kemenangan Trump yang mengejutkan itu tak hanya membelah AS, tetapi juga menghadirkan sejumlah persoalan baru, baik di dalam negeri AS maupun bagi dunia pada umumnya.

“Periode transisi pemerintahan dari Presiden Barack Obama ke rezim Trump diwarnai suasana tidak kondusif di AS. Trump harus memetik buah dari tema-tema rasis yang digaungkannya selama periode kampanye. Kemenangannya membangkitkan sentimen supremasi kulit putih, kemarahan warga kulit hitam, ujaran kebencian kepada komunitas Yahudi, Muslim dan warga imigran, hingga ancaman sejumlah perusahaan terkemuka AS untuk hengkang dari negeri itu. Rangkaian persoalan ini bagaikan api dalam sekam, karena belum tuntas penyelesaiannya,” jelasnya.

Persoalan lain yang cukup sensitif dimunculkan komunitas intelijen. Kata Bamsoet, sensitif karena mengarah pada upaya mereduksi legitimasi kemenangan Trump. CIA (dinas intelijen AS) sudah mengungkap sepak terjang Rusia mengintervensi pemilu 2016 guna membantu kemenangan Trump. Persoalan ini menjadi makin sensitif karena para pembantu Obama di Gedung Putih dan CIA yakin Presiden Rusia Vladimir Putin menjadi otak dibalik aksi meretas ribuan email Komite Nasional Partai Demokrat dan Partai Republik.

Hanya email petinggi Partai Demokrat yang diungkap ke publik oleh WikiLeaks, termasuk email ketua tim kampanye Hillary Clinton.

“Komunitas intelijen menuduh Donald Trump tahu betul tentang aksi peretasan email oleh intelijen Rusia. Maka, Trump pun mengecam Gedung Putih dan CIA. Namun, masalahnya adalah tuduhan kepada Rusia dan Putin diduga sudah menjadi keputusan bulat CIA sebagai institusi, bukan orang per orang atau sekelompok intelijen,” kata Bamsoet.

“Hasil Temuan CIA itu bahkan sudah dipresentasikan secara tertutup kepada sejumlah anggota senat AS. Seorang pejabat AS pun sudah mengeluarkan ancaman bahwa pada waktunya nanti Rusia akan menerima balasan. Tentu saja isu ini tidak hanya membuat Trump tidak nyaman, tetapi juga berpotensi merusak hubungan AS-Rusia. Sebesar apa skala kerusakan hubungan kedua negara super-power itu akan terlihat pada 2017,” tambahnya.

Bamsoet mengatakan untuk coba mengalihkan perhatian dari isu di dalam negeri, Trump mengusik para pemimpin Cina Di Beijing. Cina melancarkan protes keras karena Trump melakukan pembicaraan via telepon dengan dengan Presiden Taiwan Tsai Ing-wen. Tidak terima dengan protes Beijing, Trump membuat pernyataan tentang kemungkinan AS mengakhiri Kebijakan Satu Cina. Jika rezim Trump akhirnya benar-benar mengakui kedaulatan Taiwan sebagai negara terpisah dari Cina daratan, Beijing sudah pasti tidak akan tinggal diam.

Masyarakat internasional juga masih harus menunggu kejelasan sikap Trump terhadap progres pengembangan senjata nuklir milik Iran dan Korea Utara. Sikap rezim Trump terhadap kedua negara itu sedikit banyak akan berkontribusi pada ketidakpastian global sepanjang 2017. Sesuai jadual, Trump akan diambil sumpahnya sebagai Presiden AS pada 20 Januari 2017.

“Itulah faktor-faktor utama yang diperkirakan akan mengeskalasi ketidakpastian global sepanjang 2017. Oleh karena perilaku Trump sudah memerangkap AS, Rusia dan Cina dalam benih konflik, Indonesia tentu harus mengamati dengan seksama progres dari persoalan-persoalan yang menyelimuti tiga negara kekuatan utama itu,” katanya.

Sebab, lanjut Bamseot, entah besar atau kecil, dampaknya sudah pasti akan dirasakan oleh Indonesia juga. Memang, untuk Indonesia dan banyak negara lain, dampak langsung ketidakpastian global bukan sesuatu yang baru. Biasanya ditandai dengan fluktuasi nilai tukar valuta, tinggi rendahya suku bunga, arus keluar masuk dana asing, fluktuasi harga energi, khususnya minyak, hingga arus investasi langsung.

“Untuk mereduksi dampak ketidakpastian global itu, Pemerintah Indonesia hendaknya tetap menjaga hubungan baik dengan ketiga negara itu. Sudah ada landasan untuk menjaga hubungan baik itu karena Indonesia bersama AS, Cina dan Rusia sudah terikat oleh sejumla program kerja sama di sejumlah bidang,” jelasnya. @dg

loading...

0 komentar:

Posting Komentar