KALTIM (HK)- Helikopter milik TNI AD jenis Bell 412-EP dengan nomor penerbangan HA-5166 ditemukan dengan kondisi hancur dalam hutan belantara, Kayan Mentang, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, kemarin.
Satu korban, Lettu Cpn Abdi Darmain ditemukan selamat oleh tim SAR gabungan. Sementara empat lainnya masih dalam pencarian. Mereka adalah Lettu CPN Yohanes Syaputra, Lettu Ginas Sasmita, Sertu Bayu Sadeli dan Praka Suyanto.
Helikopter itu sebelumnya hilang kontak pada Kamis (24/11). Heli tersebut membawa tugas pengiriman logistik dari Bandara Juwata, Tarakan, menuju Long Bawan, Kecamatan Krayan, di Nunukan untuk pengamanan perbatasan Malaysia-Indonesia. Sebelum jatuh, warga Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, sempat menyaksikan helikopter itu berputar-putar sebanyak empat kali sebelum ledakan terjadi.
Komandan Kodim 0910/Malinau, Letnan Kolonel Infantri Andy M Akad menyebutkan, keberadaan helikopter yang hilang kontak itu dilaporkan Kepala Desa Long Berang, Kabupaten Malinau, Jesli Mugi.
Mugi, mengutip keterangan warganya, mengaku sempat melihat helikopter berputar-putar sebanyak empat kali sebelum terjadi ledakan sangat besar sekitar pukul 15.00 waktu setempat, Kamis (24/11), sehingga pencarian difokuskan pada area terdengarnya ledakan itu.
"Ledakan itu adalah saat helikopter itu jatuh dalam hutan belantara di Desa Long Berang," kata Akad.
Helikopter yang lepas landas dari Bandara Juwata, Tarakan, mengangkut logistik sekitar 400 kilogram tujuan Pos Pengamanan Perbatasan Negara, di Tanjung Karya, Desa Long Bawan, Kecamatan Krayan, Kabupaten Nunukan.
Akad mengungkapkan, warga yang melihat berputar-putar dan mendengarkan ledakan itu sedang mencari kayu bakar di hutan, tepatnya di lokasi air terjun Ruab Badak Desa Nansarang, yang dikenal masyarakat setempat sebagai air terjun hantu.
Temuan helikopter itu disampaikan secara berantai dari dua pencari gaharu itu ke desa mereka Nansarang dan pos TNI yang ada di Desa Long Berang melalui radio amatir (handy talkie). Rata-rata warga dan rumah menggunakan radio amatir untuk komunikasi karena dirasa lebih mudah.
"Jarak tiga sampai lima kilometer masih bisa cerita dengan orang-orang di kampung tentang temuan mereka apa saja di hutan," kata Akad.
Pasca informasi temuan itu, lanjut Akad, TNI dan warga yang sudah siap di Long Berang langsung menuju titik helikopter jatuh. Tim SAR gabungan dari TNI, Polri, dan Basarnas diperkuat warga dari tiga desa, yakni, Long Berang, Nasarang, dan Long Sulit mencari korban.
"Mereka naik (mencari) sejak Kamis itu dengan menggunakan 15 mobil. Semua untuk logistik, SAR, TNI, polisi," kata Akad. Rencananya, mereka harus meneruskan dengan jalan kaki ke titik jatuhnya helikopter.
Setelah evakuasi, korban akan diseberangkan melintasi Sungai Krayan menuju ke Desa Long Sulit. Dari desan ini korban menuju Desa Semamu, lalu ibukota Malinau. "Empat jam perjalanan baru ke Tarakan," kata Akad.
Di tempat terpisah, Kadispenad Brigjen M Sabrar Fadhilah mengatakan hingga saat ini, empat korban lainnya masih dalam pencarian tim SAR gabungan. Ia mengaku belum berani memastikan kondisi keempat penumpang lainnya.
"Kita tunggu besok semoga cuacanya baik dan segera bisa ditemukan seluruh korban," ucap Fadhilah.
Sementara itu Gubernur Provinsi Kalimantan Utara, Irianto Lambrie mengatakan pencarian melalui udara, kemarin, tim SAR telah menemukan bagian baling-baling helikopter dalam hutan. Namun, tim SAR belum dapat menjangkau lokasi jatuhnya helikopter. Karena berada di lokasi yang sulit dijangkau. Karena berada di tengah hutan yang lebat dan terdapat sungai besar yang membentang.
"Menyatakan ikut prihatin dan turut berduka cita, atas korban jatuhnya pesawat ini, semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan," kata Irianto.(dtc/kcm)
Share
0 komentar:
Posting Komentar