Kamis, 10 November 2016

Edy Rahmayadi Terpilih Jadi Ketua Umum PSSI

Jakarta (HK)- Edy Rahmayadi secara resmi terpilih sebagai Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) periode 2016-2020. Edy mendapatkan suara terbanyak dalam Kongres PSSI yang berlangsung di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta Utara, Kamis (10/11).
Edy mendapatkan 76 suara. Di urutan kedua ada Moeldoko dengan 23 suara. Sedangkan kandidat lain, Eddy Rumpoko, hanya mendapat satu suara. Tujuh suara dari total 107 suara dinyatakan tidak sah.

"Dengan ini, hasil saya nyatakan sah," kata Ketua Komite Pemilihan PSSI Agum Gumelar.

Deputi IV Bidang Peningkatan Prestasi Kementerian Pemuda dan Olahraga Gatot S. Dewa Broto mengucapkan selamat kepada Ketua PSSI terpilih. "Kami mengucapkan selamat kepada Pak Edy Rakhmayadi yang telah terpilih," ucap Gatot melalui pesan WhatsApp, Kamis ini.

Gatot yang hadir dalam Kongres PSSI mewakili Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi menyampaikan ucapan tersebut secara langsung. Tak hanya kepada Edy, Gatot juga memberikan ucapan selamat kepada Moeldoko. "Pak Moeldoko yang secara kesatria bisa menerima kekalahan tersebut," ujarnya.

Kementerian Pemuda dan Olahraga mengucapkan selamat kepada Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) Letnan Jenderal TNI Edy Rahmayadi yang terpilih sebagai Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia periode 2016-2020. Setelah Edy Rahmayadi terpilih, ada banyak pekerjaan rumah di tubuh PSSI yang harus segera dibereskan.

Deputi IV Bidang Peningkatan Prestasi Kementerian Pemuda Gatot S. Dewa Broto mengatakan Edy tidak boleh terlalu lama bersukacita. "Sejumlah PR (pekerjaan rumah) PSSI sudah sangat mendesak untuk ditangani," ucap Gatot dalam keterangan media, Kamis, 10 November 2016.

Gatot berujar, langkah pertama yang harus dilakukan Ketua Umum PSSI yang baru adalah segera melakukan konsolidasi internal. "Persaingan menghadapi kongres telah menimbulkan terjadinya polarisasi pilihan, tapi kini harus disatukan kembali. Apalagi proses pemilihan tidak diwarnai dengan interupsi atau gejolak," tuturnya.

Selain itu, Gatot mengingatkan agar Ketua Umum PSSI baru dan jajarannya mencurahkan waktunya untuk mengurus PSSI. Untuk ini, kata dia, dibutuhkan dedikasi, integritas, dan komitmen yang ekstratinggi untuk segera membenahi PSSI.

Alasannya, menurut Gatot, publik, pemerintah, dan para pemangku kepentingan sangat berharap besar kepada pengurus PSSI yang baru untuk melakukan percepatan reformasi di PSSI. "Jika tidak, tidak tertutup kemungkinan publik hanya akan mem-bully pengurus baru jika tanpa visi, misi, dan target yang jelas," ucapnya.

Gatot menyebutkan salah satu poin utama tujuan Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) seperti disebutkan dalam Pasal 1 butir (e) adalah melawan tindakan yang berpotensi ke arah match manipulation. "Ini concern banyak pihak, dan Pak Edy dengan latar belakang militer yang dimilikinya harus segera mampu mengatasinya," tutur Gatot.

Ketua umum baru PSSI, Letjen Edy Rahmayadi, mengatakan dirinya akan langsung bekerja sebagai pucuk pimpinan federasi sepakbola Indonesia itu. Suporter termasuk yang akan diurusi. "Mulai sekarang, besok, kami sudah bekerja. Nanti malam kami akan rapat Exco dengan kepengurusan baru," ujar Edy.

Ketika ditanya tentang apa saja yang dibahas dalam rapat Exco tersebut? Pria asal Aceh ini menyebut semua hal salah satunya tentang organisasi. "Salah satunya itu (soal permintaan pemerintah kepada PSSI tentang manajemen suporter)," katanya.

Sementara itu, di Surabaya, Jawa Timur, bonek sedang melakukan aksi demonstrasi sebagai buntut ditiadakannya pembahasan soal pemulihan sejumlah klub termasuk Persebaya, dalam agenda kongres hari ini.

Mereka kecewa berat karena sebelumnya Komite Eksekutif telah menjanjikan akan mengakomodir hal tersebut di dalam kongres. Apalagi perwakilan klub diundang pula untuk datang ke kongres.

Sialnya, di awal kongres para voter malah menolak mereka. Manajer Madura United yang juga mantan Ketua Pengprov PSSI Jatim, Hanura Soemitro, adalah yang memelopori penolakan pembahasan soal klub-klub tersebut, yang kemudian dikuatkan oleh voting.

Bonek sendiri mengecam keras apa yang dilakukan Haruna dan meyakini motifnya adalah terkait Bhayangkara FC. Anehnya, meskipun Persebaya mendelegasikan Kardi Soewito dan Choesnoel Farid untuk mengikuti kongres (sebagai observer), namun tercatat nama Gede Widiade sebagai wakil Bhayangkara FC, dengan menggunakan mandat dari Persebaya sebagai voter sah pada kongres tahun 2015.

Padahal, pada Juni lalu Pengadilan Negeri Surabaya memenangkan PT Persebaya Indonesia sebagai pemilik sah brand Persebaya, dan bukannya PT Mitra Muda Inti Berlain (MMIB), yang belakangan mengubah nama kesebelasannya menjadi Bhayangkara Surabaya United – dan terakhir menjadi (hanya) Bhayangkara FC.(tmp/dtc)

Share

0 komentar:

Posting Komentar