Majelis Pengasuh Pondok Pesantren Al Aqobah, Diwek Jombang, KH Junaidi Hidayah saat ditemui LICOM di kediamannya, Kamis (13/10/2016).LENSAINDONESIA.COM: Dampak penggunaan isu SARA (Suku, Agama, Ras dan Antargolongan) Pilkada DKI Jakarta telah merembet ke sejumlah daerah di Indonesia, termasuk Jawa Timur.
Gencarnya propaganda politik ‘kotor’ melalui media sosial ini telah mempengaruhi pola pikir masyarakat untuk saling membenci dan menghasut. Bukan hanya ‘perang’ di media sosial serta televisi dan koran, dukung mendukung berlatar belakang SARA ini telah melibatkan aksi massa.
Pengasuh Majelis Pengasuh Pondok Pesantren Al Aqobah, Diwek Jombang, KH Junaidi Hidayah meminta para elit politik atau siapa pun yang terlibat dalam perhelatan Pilkada DKI Jakrta untuk lebih dewasa dan tidak mengeluarkan statmen yang memancing permusuhan.
“Kita berharap di Jawa Timur, dan khususnya di Jombang agar tidak terpancing provokasi yang terkait isu SARA Pilkada DKI tersebut. Masyarakat tetap harus waspada dan mawas diri, baik sebagai umat islam, dan juga bangsa indonesia agar tidak mudah terpecah belah”.
“Karena untuk urusan politik itu tidak mandiri, sebab penuh kepentingan yang mempunyai peran sesuai dengan kepentingan masing-masing. Supaya tidak melebar kemana mana, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan pemerintah sangat penting untuk mencegah situasi ini,” pintanya saat ditemui LICOM di kediamannya, Kamis (13/10/2016).
Sementara itu, Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Jombang, Farid Al Farisi mengaku prihatin penggunaan isu SARA Pilkada DKI tersebut telah menjalar di tengah masyarakat di daerah (luar Jakarta), khususnya di Jombang. Mudahnya masyarakat mengakses berita-berita dari situs apapun di internet membuat masalah ini menggelinding bagai bola salju.
“Yang jelas penggunaan Isu SARA di Pilkada DKI itu telah mencederai demokrasi dan Pancasila. Sebaiknya, hal hal seperti itu dihindari, agar masyarakat tidak terjebak dalam dinamika politik yang menyebabkan adanya permusuhan di tengah masyarakat,” katanya.
Farid meminta para elit partai politik dan juga calon kepalda daerah lebih mengedepankan kampanye yang mendidik dengan beradu visi misi dan program untuk meraih simpati pemilih. Pria yang akrab disapa Gus Farid ini menilai, penggunaan isu SARA dalam pilkada tidak akan mendapatkan hasil apapun, justru akan merusak sendi-sendi persatuan.
“Masyarakat sudah semakin dewasa dalam memahami politik dalam menentukan calon pemimpinya. Akan lebih baik bila beradu kreatif dan menunjukkan program-program yang diusung, bukan malah saling menjatuhkan dengan isu SARA tersebut. Itu sama aja mengadu domba masyarakatnya, warga pemilih di Pilkada DKI. Untuk itu, tokoh masyarakat, tokoh agama, aktifis pemuda yangg terlibat dalam suksesi harap bisa memberikan contoh berpolitik secara santun dan beradab,” cetusnya.
Gus Farid juga berharap agar keruhnya situasi akibat isu SARA ini bisa dijadikan reverensi sebagai pembelajaran dalam berpolitik yang beretika.
“Menurut saya program-program unggulan calon kepala daerah yang berorientasi untuk kemaslahatan dan juga untuk kesejahteraan sangat dinanti oleh pemilih saat ini,” ujarnya.
“Semoga apa yang terjadi di Jakarta saat ini tidak mempengaruhi masyarakat di Jombang dan Jatim. Sebab tahun depan akan digelar Pilkada Jatim,” pungkas Gus Farid.@Obi
0 komentar:
Posting Komentar