KARIMUN (HK)- Sekolah yang nyaman akan menjadi tempat yang baik untuk menimba ilmu bagi generasi bangsa. Namun apa jadinya jika sekolah tersebut jauh dari nyaman dan minim fasilitas. Sekolah Dasar Negeri (SDN) 008 Kampung Baru, Desa Tanjungbatu Kecil, Kecamatan Buru, Karimun misalnya.
Sekolah yang terletak persis di kaki Gunung Papan ini hanya ada empat ruangan. Tiga ruangan digunakan untuk aktivitas belajar- mengajar. Satu ruangan lainnya digunakan sebagai kantor, ruangan guru dan kepala sekolah.
Tiga ruangan belajar inilah digunakan untuk siswa kelas I hingga kelas VI untuk belajar. Karena ruangan tidak mencukupi, pihak sekolah terpaksa menyekat satu dari tiga ruangan itu menjadi dua kelas. Hanya saja, karena sekatan dengan papan dan tidak menutupi seluruh ruangan, sehingga proses belajar mengajar di dua kelas jadi terganggu.
Tak jarang, siswa kelas satu bertandang ke sebelah tempat kakak kelasnya belajar. Begitu juga sebaliknya, siswa kelas dua terkadang bermain-main ke tempat adik kelasnya. Ketika dihampiri, mereka langsung berlarian menuju tempat duduk masing-masing. Duduk dengan manisnya sambil melipat tangan.
Kepala SDN 008 Jumiaty mengatakan, sekolah itu dibangun sejak 2006 silam. Jumlah siswanya saat ini sebanyak 31 orang. Kelas I diisi 5 orang siswa. Kelas II, 4 siswa. Kelas III, 5 siswa. Kelas VI, 5 siswa. Kelas V, 7 siswa. Dan kelas VI, 5 orang siswa. Kelas I dan II disatukan dalam satu ruangan. Begitu seterusnya hingga kelas V dan VI berada dalam satu ruangan.
"Bangunan sekolah ini dibangun pada 2006 lalu. Ruangan di sekolah ini hanya ada tiga, jadi tidak mencukupi. Makanya, kami terpaksa menyekat satu ruangan menjadi dua kelas. Kelas satu dan kelas dua berada dalam satu ruangan, begitu selanjunya sampai kelas enam," tutur Jumiaty.
Semua siswa tersebut berasal dari 2 RT, yakni RT 01 dan RT 02 di RW 03, Kampung Baru, Desa Tanjungbatu Kecil, Kecamatan Buru. Orang tua siswa disana rata-rata bekerja sebagai petani kelapa sawit, karet kerja serabutan. Mereka tinggal di lereng Gunung Papan. Gunung berapi di Karimun itu tidak aktif. Hanya terdapat sumber mata air panas di puncaknya.
Saat ini, di sekolah itu tengah dibangun dua ruangan kelas baru. Ruangan kelas itu berada di sisi sebelah kanan lingkungan sekolah itu. Anggaran pembangunannya berasal dari Dana Alokasi Khusus (DAK) pemerintah pusat dengan besaran Rp298 juta. Pengerjaannya dilakukan dengan sistem swakelola.
"Jika ruangan kelas baru itu selesai dibangunn, maka anak-anak akan kami pindahkan kesana. Kami tak perlu menyekat ruangan lagi untuk dua kelas. Ruangan guru atau kantor juga akan difungsikan sebagai ruangan kelas. Sementara, ruangan kantor akan dipindahkan ke bangunan lain di sebelah atas," terang Jumiaty.
Bangunan SDN 008 Kampung Baru, Desa Tanjungbatu Kecil, Kecamatan Buru berada di lereng perbukitan. Di sisi sebelah kiri lingkungan sekolah terdapat tebing tanah yang curam. Selain meminta bangunan ruang kelas baru, pihak sekolah juga menginginkan dibangunnya batu miring di sekolah itu, agar bangunan utama tidak ambruk.
Jalan menuju SDN 008 sangat memprihatinkan. Jarak antara sekolah dengan pelabuhan Tanjungbatu Kecil sekitar 4 kilometer. Hanya sekitar 2 kilometer jalan sudah disemenisasi, sisanya masih jalan tanah. Parahnya, ketika hujan turun, maka akses menuju ke sekolah terputus. Luapan air dari hutan akan memenuhi jalan, karena sisi jalan hanya terdapat satu drainase.
Lima Sekolah
Bukan hanya SDN 008 Kampung Baru, Desa Tanjungbatu Kecil, Kecamatan Buru saja yang kondisinya memprihatinkan. Setidaknya, masih ada 5 sekolah dasar lagi di Kabupaten Karimun yang ruangan kelasnya terpaksa disekat untuk dibagi dua kelas. Semua sekolah itu berada di wilayah hinterland Karimun.
Kepala Seksi Sarana dan Prasarana Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Kabupaten Karimun Kazta Rizalta mengatakan, ada 5 SDN lagi yang mengalami nasib serupa yakni SDN 12 Karimun, SDN 80, SDN 003 Moro dengan kelas jauh di Mentangon, SDN 007 Moro dan terakhir adalah SDN 005 Durai.
"Semua sekolah yang saya sebutkan itu kondisinya sama dengan SDN 008 Desa Tanjungbatu Kecil ini. Satu ruangan terpaksa disekat untuk dua kelas. Namun, sekarang kami sudah mengusulkan untuk pembangunan dua ruangan kelas baru. Alhamdulillah, semuanya dalam tahap pengerjaan. Dananya berasal dari DAK 2016 dengan total anggaran Rp1,4 miliar," ungkap Kazta.
Selain bantuan DAK, kata Kazta, pemerintah pusat juga mengucurkan bantuan untuk pembangunan ruangan perpustakaan bagi 5 sekolah dasar di Kabupaten Karimun, diantaranya SDN 002 Buru, SDN 013 Kundur Barat, SDN 016 Kundur, SDN 016 Kundur Utara dan SDN 006 Durai. Anggarannya langsung ditransfer ke rekening sekolah. Konsepnya sama dengan cara swakelola.
"Sekolah yang ruang kelasnya disekat itu disebut setengah unit. Rata-rata jumlah siswanya antara 30 hingga 60 orang. Namun, jumlah guru untuk seluruh sekolah mencukupi. Guru dari kelas satu sampai kelas enam ada. Hanya sarana dan prasarana saja yang masih kurang. Alhamdulillah, dengan bantuan pusat ini ruangan kelas bisa bertambah," pungkas Kazta. (ham)
Share
0 komentar:
Posting Komentar