Selasa, 20 September 2016

Uji coba full day school jangan sampai buat proses KBM berantakan

LENSAINDONESIA.COM: Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan bakal menerapkan full day school di sejumlah sekolah dan provinsi. Namun, pemerintah diingatkan untuk mempersiapkan fasilitas yang memadai.

Presiden Joko Widodo dalam acara di Pondok Pesantren Darusaalam, Gontor, Ponorogo Jawa Timur, Senin (19/9/2016) menegaskan akan merealisasikan program Full Day School (FDS) di sejumlah provinsi di Indonesia. Salah satu dasar mendorong program tersebut dimaksudkan sebagai langkah untuk penanaman karakter anak didik. Hal ini karena nilai-nilai keindonesiaan yang memudar.

Anggota Komisi X, Reni Marlinawati mengatakan pijakan dasar yang melatari rencana tersebut memang menjadi concern bersama yakni soal penanaman moral dan akhlak kepada anak didik. “Meskipun, mengusulkan ide FDS sebagi satu-satunya cara untuk mengatasi persoalan moral dan akhlak anak didik bukanlah satu-satunya cara,” kata Reni, Selasa (20/9/2016).

Reni mengatakan ide FDS ini juga memiliki tantangan dan persoalan di lapangan. Mulai soal fasilitas pendukung, sumber daya manusia yang ujung-ujungnya pada persoalan pendanaan.

“Dalam praktiknya FDS telah berlangsung di sekolah-sekolah kita khususnya di sekolah swasta yang berada di kota-kota besar seperti Jakarta dan sekitarnya. Hampir satu hari penuh, anak didik berada di sekolah mulai pukul 07-00 hingga sekitar pukul 15.00. Anak-anak belajar dan mengikuti kegiatan ekstra kurikuler. Tentu dari sisi biaya, sekolah di swasta jauh lebih mahal dibanding di sekolah milik pemerintah yang tidak dipungut biaya sama sekali,” bebernya.

Oleh karena itu, penerapan FDS yang rencana dilakukan di sejumlah provinsi harus tetap mempertimbangkan soal ketersediaan fasilitas pendukung mulai infrastruktur, SDM dam fasilitas penunjang. “Jangan sampai, rencana ini dipaksakan sehingga praktik di lapangan berantakan bahkan cenderung menganggu proses kegiatan belajar mengajar (KBM),” tuturnya.

Reni juga berharap Pemerintah melakukan pemetaan secara komprehensif data sekolah di provinsi yang akan diujicobakan penerapan FDS ini. Harus ada data konkret mana sekolah yang secara teknis bisa menjalankan program FDS dan mana sekolah yang tidak/belum mampu menerapkan program ini.

“Karena dalam praktiknya, sekolah negeri kita justru kualitasnya jauh di bawah sekolah yang dikelola pihak swasta. Sangat sedikit sekolah negeri yang memiliki kualitas unggul,” ujarnya.

Apalagi kalau melihat kondisi sekolah-sekolah negeri yang berada di daerah-daerah, sungguh memprihatinkan. Selain pemetaan data sekolah, pemerintah harus memiliki kajian akademik terkait rencana tersebut. Harus dilihat dari berbagai aspek terkait rencana kebijakan tersebut.@licom

loading...

0 komentar:

Posting Komentar